×
BBGTK Jateng Gelar Webinar SEKAMPADI Episode 61, Kupas Tuntas Teknik Pembuatan Video Pembelajaran Lewat Smartphone

BBGTK Jateng Gelar Webinar SEKAMPADI Episode 61, Kupas Tuntas Teknik Pembuatan Video Pembelajaran Lewat Smartphone

 

Semarang (24 September 2026) – Dilatar belakangi sosialisasi apresiasi penghargaan GTK telah dilaksanakan BBGTK Jateng pada tanggal 21 September 2026 dan aturan main penyusunan portofolio untuk Penghargaan GTK 2026 di mana video bukan lagi sekadar lampiran pelengkap. Video Pembelajaran sudah menjadi bagian utama dari Bukti Karya yang menyatu secara substansial dengan naskah yang dikirimkan. Dalam hal ini Video wajib menggambarkan praktik nyata yang telah dilakukan, bukan dibuat secara mendadak hanya untuk menambal kekurangan naskah. Selain untuk kebutuhan yang sifatnya insidental untuk lomba, kebutuhan untuk mendapatkan video pembelajaran berkualitas yang dihasilkan sendiri oleh guru dan tendik khususnya, sudah merupakan kebutuhan mutlak untuk keberlangsungan pembelajaran dalam kelas itu sendiri. Berkaca dari hal yang demikian, adalah sebuah keniscayaan BBGTK Jateng memfasilitasi guru dan tenaga kependidikan dengan keterampilan yang dimaksud.

 

Senyampang dengan hal itu, BBGTK Jateng merasa perlu untuk memberikan sedikit pencerahan terkait contoh pembuatan video pembelajaran sederhana dengan menggunakan smartphone. Dengan balutan Webinar Series SEKAMPADI (Semangat Kolaborasi Melalui Pembelajaran Daring Interaktif) Episode 61 dengan tema "Bagaimana Teknik Membuat Video Pembelajaran Sederhana Menggunakan Smartphone?".

 

Acara ini berlangsung secara daring pada Kamis, 24 September 2026, pukul 13.30 hingga 15.00 WIB menghadirkan narasumber utama, Apsari Retno Wiratmi, Pengembang Teknologi Pembelajaran BBGTK Jateng yang membagikan teknik-teknik praktis produksi video bagi guru. Jalannya diskusi akan dipandu langsung oleh Fatma Luvy P. dari Tim Kerja Peningkatan Kompetensi BBGTK Jateng selaku moderator. Dalam paparan yang disampaikan ada beberapa poin yang bisa di-highlight diantaranya adalah sebagai berikut :

 

“Di era pembelajaran digital saat ini, peran guru tidak lagi terbatas pada penyampaian materi secara konvensional di depan kelas. Guru dituntut untuk semakin kreatif dalam menyajikan materi pembelajaran agar terasa lebih dekat, interaktif, dan mudah dipahami oleh karakteristik generasi murid zaman sekarang. Salah satu media yang paling efektif untuk menjembatani hal ini adalah video pembelajaran.

 

Banyak pendidik merasa ragu untuk membuat video karena membayangkan proses produksi yang rumit, membutuhkan kamera mahal, atau perangkat komputer berspesifikasi tinggi. Padahal, kunci kreativitas sebenarnya sudah berada di genggaman tangan masing-masing, yaitu melalui smartphone.

 

Mengoptimalkan smartphone untuk membuat video pembelajaran sederhana namun menarik adalah langkah taktis yang bisa diambil oleh setiap guru. Melalui gawai sehari-hari, guru dapat merekam, menyunting, hingga menyisipkan animasi pendukung secara mandiri. Langkah ini tidak hanya memangkas kendala teknis, tetapi juga memberikan ruang bagi guru untuk menyampaikan materi secara visual yang akrab dengan dunia digital siswa. Dengan kreativitas yang terus diasah, proses belajar-mengajar pun akan bertransformasi menjadi pengalaman yang jauh lebih menyenangkan dan kontekstual.”

 

Dalam sesi diskusi pembuka, Apsari menekankan bahwa secanggih apa pun AI, video pembelajaran memiliki keunggulan nyata yang tidak dimiliki oleh teks atau gambar statis.

  • Menunjukkan Proses Perubahan: Video mampu memperlihatkan visual dinamis seperti larutan zat yang berubah warna atau urutan goresan menulis huruf secara real-time.

  • Diferensiasi Pembelajaran yang Murah: Kendali penuh ada di tangan murid. Murid yang belajarnya lambat bisa mengulang video tanpa rasa malu, sementara yang cepat bisa melompat ke bagian berikutnya.

  • Kepercayaan dan Konteks Lokal: AI bisa memberikan penjelasan gratis, tetapi AI tidak tahu persis buku apa yang dipakai, apa nama daerah sekolah, atau kejadian nyata di sekitar lingkungan murid.

 

Apsari juga memetakan batasan penggunaan AI dalam pembuatan video. Sementara AI sangat membantu dalam menyusun draf naskah, membuat transkrip, atau merapikan suara, elemen penting seperti akurasi fenomena nyata, konteks lokal, dan orisinalitas proses berpikir guru tetap sepenuhnya berada di tangan pendidik.

 

Banyak guru kerap menunda membuat video karena merasa fasilitasnya kurang mendukung. Webinar ini sukses mendobrak mitos tersebut dengan membedah tiga hambatan klasik:

 

  1. Kamera HP Biasa Saja: HP keluaran lima tahun terakhir sebagian besar sudah mampu merekam kualitas 1080p. Kuncinya ada pada pencahayaan dan audio yang bersih, bukan pada mahalnya alat (man behind the gun).

  2. Tidak Bisa Mengedit: Untuk video berdurasi pendek, guru sebenarnya hanya butuh menguasai 5 perintah dasar: potong, gabung, tambah teks, musik, dan ekspor melalui aplikasi gratis di HP.

  3. Tidak Ada Waktu: Membuat video tiga menit bisa selesai dalam 45 menit jika guru disiplin menyusun naskah terlebih dahulu agar tidak perlu melakukan rekaman berulang-ulang.

 

Agar video benar-benar ditonton sampai habis oleh murid, narasumber membagikan tiga prinsip utama:

  • Satu Video, Satu Ide: Fokus pada satu tujuan pembelajaran spesifik agar durasi tidak melebar.

  • Kekuatan Narasi: Gambar dan teks hanyalah penopang, poin utama diserap murid melalui penjelasan suara guru.

  • Batasi Durasi: Perhatian penonton turun tajam setelah menit keenam. Durasi ideal untuk SD adalah 2–4 menit, sedangkan untuk SMP-SMA berkisar antara 3–6 menit.

 

Guru juga diajarkan struktur naskah 3 menit yang efektif, diawali dengan Hook & Promise (10-20 detik pertama yang memicu rasa penasaran tanpa salam pembuka yang kepanjangan), diikuti isi materi (1-2 menit), serta ditutup dengan rangkuman dan ajakan aksi atau tugas kecil bagi murid.

 

Pemetaan Kerja Produksi Video (Peta Kerja)

Proses pembuatan video dibagi ke dalam tiga tahap dengan alokasi waktu yang proporsional:

  • Pra-Produksi (40%): Menentukan tujuan pembelajaran, menyusun naskah, dan menyiapkan alat.

  • Produksi (30%): Mengatur cahaya, sudut kamera, uji suara, dan merekam potongan video.

  • Pasca-Produksi (30%): Menyunting video (cutting), menambah teks/musik, mengekspor, dan membagikan video.

 


Tahap 1: Pra-Produksi (Fondasi Video)

Kegagalan video pembelajaran umumnya bersumber dari tahap pra-produksi yang berantakan. Berikut langkah yang harus dilakukan:

1. Mulai dengan Tujuan Spesifik

Lengkapi kalimat: "Setelah menonton video ini, murid dapat [Tujuan Spesifik]". Hindari tujuan yang terlalu luas seperti "Memahami Bab 3 tentang Ekosistem". Ubah menjadi lebih terarah, contohnya "Murid dapat membedakan rantai makanan".

 

2. Susun Struktur Naskah (Contoh Video 3 Menit)

  • Hook & Promise (10–20 detik): Buka langsung dengan pertanyaan pemantik atau fenomena nyata. Hindari salam pembuka dan perkenalan diri yang terlalu panjang karena memicu murid menutup video.

  • Isi (1 menit 45 detik): Batasi maksimal 3 poin. Sebutkan nama poinnya, tunjukkan contoh visualnya, dan beri kalimat penegas. Gunakan penanda lisan seperti "yang pertama...", "sekarang yang kedua...".

  • Rangkum & Ajakan (30–15 detik): Ulangi poin utama dalam satu tarikan napas dan berikan tugas praktis berskala kecil.

 

3. Gunakan Template Naskah Tiga Kolom

Tulis naskah dengan gaya bahasa lisan (seperti sedang berbicara langsung), bukan bahasa baku buku teks. Sebagai patokan, satu halaman kertas A4 setara dengan sekitar 3 menit durasi bicara santai.

4. Siapkan Alat Sesuai Anggaran

  • Wajib (Rp0): Smartphone (1080p), ruangan tenang, pencahayaan alami jendela, dan tumpukan buku sebagai pengganti tripod.

  • Sangat Membantu: Tripod HP, mikrofon jepit (clip-on) kabel 3.5mm, dan earphone untuk memantau kualitas audio.

 

Tahap 2: Produksi (Proses Rekaman)

Saat melakukan rekaman (take video), perhatikan elemen-elemen teknis berikut agar hasilnya layak tonton:

Tata Cahaya dan Posisi Kamera

  • Manfaatkan Jendela: Menghadaplah ke arah jendela agar cahaya alami jatuh tepat di wajah. Hindari posisi membelakangi jendela (backlight) yang membuat wajah menjadi siluet gelap. Waktu rekaman terbaik berkisar antara pukul 09.00 hingga 15.00.

  • Gunakan Kamera Belakang: Kualitas lensa kamera belakang selalu jauh lebih tinggi dibanding kamera depan.

  • Kunci Fokus dan Cahaya (AE/AF Lock): Tekan dan tahan layar pada posisi wajah Anda sampai muncul tulisan AE/AF Lock agar pencahayaan tidak berubah-ubah secara otomatis saat Anda bergerak.

  • Atur Orientasi dan Komposisi Gambar: Gunakan format mendatar (landscape) untuk kebutuhan proyektor, YouTube, atau LMS. Aktifkan fitur garis bantu (grid/kisi) pada pengaturan kamera HP Anda. Posisikan mata Anda sejajar pada garis sepertiga bagian atas layar dengan ruang kepala (headroom) secukupnya.

 

Jangan monoton menggunakan satu ukuran gambar. Gunakan variasi ukuran secara berurutan sesuai fungsinya:

  • Wide Shot: Membangun konteks lingkungan sekitar.

  • Medium Shot: Menyeimbangkan ekspresi guru dan gerakan tangan.

  • Close Up: Memberikan penekanan mutlak pada detail krusial yang wajib dilihat murid.

 

Kualitas Audio yang Bersih

  • Jaga jarak mulut dengan mikrofon idealnya sekitar 30 cm.

  • Matikan kipas angin, AC, dan nyalakan Mode Pesawat pada HP agar rekaman tidak terinterupsi suara dering notifikasi.

  • Lakukan perekaman di ruangan yang minim gema (ruangan berkain seperti area dekat gorden atau kasur jauh lebih baik dibanding ruangan kosong berkeramik).

  • Biarkan suasana senyap selama 10 detik di awal sebelum mulai berbicara. Potongan audio hening ini berfungsi untuk meredam desis latar (noise reduction) saat proses editing.

 

Tips Merekam Tanpa Grogi

  • Rekam per bagian pendek: Jangan memaksakan sekali jadi (one-take). Rekam satu bagian untuk hook, lalu ambil jeda untuk merekam poin berikutnya.

  • Trik Tepuk Tangan: Jika salah berucap, diamlah selama 2 detik, tepuk tangan sekali, lalu ulangi kalimat tersebut. Gelombang suara tepukan yang meloncat tajam akan mempermudah Anda menemukan titik kesalahan saat mengedit.


Bagi guru yang belum percaya diri tampil di depan kamera, metode rekam layar HP untuk membahas soal atau membaca grafik adalah jalur alternatif terbaik. Aktifkan fitur perekam layar bawaan Android atau iOS, pastikan sumber suara mikrofon menyala, aktifkan mode Jangan Ganggu (Do Not Disturb), dan gerakkan jari secara perlahan saat menunjuk materi di layar.

 

Tahap 3: Pasca-Produksi (Penyuntingan dan Ekspor) 

Pilihlah satu aplikasi editing gratis di HP dan kuasai sepenuhnya (misalnya CapCut, VN Video Editor, atau Canva).


 Urutan Langkah Kerja Editing (Jangan Terbalik):

  1. Impor video ke dalam proyek baru dengan aspek rasio 16:9.

  2. Buang bagian yang salah dengan mencari penanda lonjakan suara tepukan tangan.

  3. Rapatkan jeda antarkalimat (sisakan jeda sekitar 0,3–0,5 detik agar ritme video terasa hidup).

  4. Tambahkan judul di awal serta nama bagian/transisi setiap kali topik materi berganti.

  5. Sisipkan gambar, diagram, atau ilustrasi pendukung tepat di atas linimasa narasi yang sedang membahas objek tersebut.

  6. Aktifkan fitur subtitle otomatis, lalu lakukan pengecekan manual untuk membetulkan kesalahan ejaan pada istilah ilmiah, angka, atau singkatan.

  7. Tambahkan musik latar (backsound) berjenis instrumental tanpa lirik di tahap paling akhir. Turunkan volumenya hingga 10–15% agar suara penjelasan guru tetap dominan. Gunakan musik bebas hak cipta dari sumber aman seperti YouTube Audio Library atau Pixabay Music.

 

Pastikan format video ramah untuk semua perangkat murid tanpa menguras kuota internet mereka:

  • Resolusi: 1080p (sudah sangat cukup untuk layar HP maupun proyektor kelas).

  • Laju Gambar: 30 fps.

  • Format: MP4 (paling kompatibel untuk berbagai jenis HP lama maupun laptop).

  • Penamaan Berkas: Gunakan format yang terstruktur agar mudah dicari di masa depan, contohnya: 7_IPA_RantaiMakanan_v1.mp4.


Setelah video selesai diekspor, Anda dapat membagikannya melalui YouTube (bisa disetel unlisted), Google Drive (pastikan akses link dibuka untuk publik), LMS Sekolah, atau mengubah tautannya menjadi Kode QR yang dicetak pada lembar kerja siswa (LKPD). Selalu sertakan satu tugas kecil bersama tautan video agar kegiatan menonton menjadi bagian dari proses belajar aktif, bukan sekadar tontonan hiburan pasif.


Sebelum menekan tombol bagikan, lakukan evaluasi mandiri (self-check) melalui 9 Pertanyaan Kendali Mutu ini:

  1. Apakah satu tujuan pembelajaran benar-benar terjawab?

  2. Apakah 15 detik pertama sudah membuat penasaran?

  3. Apakah suara terdengar jelas lewat speaker HP biasa?

  4. Apakah wajah atau objek peraga cukup terang dan fokus?

  5. Apakah durasi video masih berada di bawah 5 menit?

  6. Apakah ejaan pada subtitle/teks sudah diperiksa dan benar?

  7. Apakah volume musik tidak menutupi suara penjelasan?

  8. Apakah ada bagian rangkuman dan ajakan aksi/tugas di akhir?

  9. Apakah tautan video sudah dicoba dan berhasil dibuka di HP lain?

 

Jika minimal 8 dari 9 pertanyaan di atas terjawab "YA", maka video pembelajaran Anda sudah sangat layak untuk ditayangkan. Ingatlah sebuah pesan penting: "Video pembelajaran terbaik bukan yang paling sinematik, tapi yang membuat murid tertarik dan rela memutarnya balik." “

 

Melalui webinar ini, BBGTK Jateng berharap para guru tidak lagi ragu untuk memulai. Hanya dengan modal smartphone, ruang tenang, dan satu jendela sebagai sumber cahaya alami, guru sudah bisa memproduksi video pembelajaran pertama mereka demi mewujudkan pendidikan bermutu untuk semua. Paparan dapat dilihat secara lengkap pada di kanal YouTube@bbgtkjateng. 

 

"Teknologi dapat menjadi 'sayap' yang memungkinkan dunia pendidikan terbang lebih jauh dan lebih cepat dari sebelumnya—jika kita mengizinkannya."

-Jenny Arledge-


Survey Kepuasan