×
Bersama Layanan SERABI SOLO BBGTK Jateng Perkuat Pemahaman Guru SDN Mojosongo 5 tentang Kokurikuler

Bersama Layanan SERABI SOLO BBGTK Jateng Perkuat Pemahaman Guru SDN Mojosongo 5 tentang Kokurikuler

Karanganyar, 23 September 2026 — BBGTK Jateng melalui layanan SERABI SOLO menyelenggarakan Webinar Bedah Kokurikuler bagi Guru SD Negeri Mojosongo 5 Kota Surakarta, Rabu (23/9/2026). Kegiatan tersebut menjadi ruang bagi guru untuk memperkuat pemahaman mengenai kokurikuler sekaligus melihat keterkaitannya dengan kegiatan yang telah dilaksanakan di sekolah.

Kegiatan yang berlangsung di BBGTK Jateng tersebut diikuti 44 peserta dari SD Negeri Mojosongo 5 Kota Surakarta ini, menghadirkan Widyaiswara BBGTK Jateng, Djoko Sambodo dengan materi “Strategi Merancang Kegiatan Kokurikuler di SD”. Materi tersebut mencakup pemahaman mengenai kokurikuler, perencanaan, bentuk kegiatan, pelaksanaan, asesmen, hingga evaluasi.

Dalam materi yang disampaikan, kokurikuler dijelaskan sebagai kegiatan pembelajaran yang berfungsi untuk memperkuat, memperdalam, dan memperkaya pembelajaran intrakurikuler, terutama dalam pengembangan karakter peserta didik. Karena itu, kegiatan kokurikuler tidak dirancang secara sembarangan atau sekadar menjadi kegiatan tambahan, melainkan perlu disusun berdasarkan tujuan dan kebutuhan peserta didik.


Perancangan kegiatan juga perlu memperhatikan karakteristik peserta didik serta kondisi sekolah dan lingkungan sekitarnya. Dari hasil analisis tersebut, sekolah dapat menentukan dimensi profil lulusan yang akan diperkuat, tema, bentuk kegiatan, tujuan, waktu pelaksanaan, aktivitas, hingga asesmen yang digunakan.

Materi turut membahas sejumlah bentuk kegiatan kokurikuler, antara lain melalui kolaborasi lintas mata pelajaran, penerapan tujuh kebiasaan anak Indonesia hebat (7 KAIH), serta pendekatan lain yang dapat disesuaikan dengan konteks dan potensi lingkungan sekolah. Pemilihan bentuk kegiatan tetap perlu mempertimbangkan karakteristik peserta didik dan tujuan yang hendak dicapai.


Setelah pemaparan materi, kegiatan dilanjutkan dengan sesi diskusi. Pada sesi tersebut, peserta mengaitkan materi dengan kondisi dan kegiatan yang telah berlangsung di sekolah. Salah satu pembahasan yang muncul dalam diskusi adalah peluang dukungan melalui program Corporate Social Responsibility (CSR), termasuk pembicaraan mengenai pengajuan dan dukungan yang dapat diperoleh.

Diskusi tersebut juga membantu peserta melihat kembali kegiatan yang selama ini telah dilakukan di SD Negeri Mojosongo 5. Kepala SD Negeri Mojosongo 5 Kota Surakarta, Tukadi, mengatakan materi yang disampaikan relevan karena memberikan jawaban atas pertanyaan mengenai posisi kegiatan yang telah berjalan di sekolah dalam konteks kokurikuler.

“Penerapan dari kokurikuler sendiri sebenarnya SD sudah dilaksanakan, tetapi teman-teman, ‘apa ini masuk kokurikuler apa tidak?’ Nah, ini tadi sudah ada jawaban,” ujar Tukadi.

Menurut Tukadi, penguatan kokurikuler tidak terlepas dari upaya membangun karakter secara berkelanjutan. Ia menjelaskan bahwa pembentukan karakter perlu dimulai melalui pembiasaan hingga berkembang menjadi kebiasaan dan akhirnya tertanam dalam diri peserta didik serta seluruh warga sekolah.

“Terkait dengan kegiatan kokurikuler, karakter ini dari pembiasaan, terus kemudian kita maju ke kebiasaan, kebiasaan terus maju menjadi karakter tertanam pada diri anak, guru dan semua termasuk orang tua. Nanti harapan kami menjadi peradaban di sekolah, kemudian kalau sudah menjadi peradaban itu ya semua warga sekolah akan menerapkan bentuk karakternya,” ujar Tukadi.

Pandangan tersebut sejalan dengan materi yang menempatkan kokurikuler sebagai kegiatan yang memberikan pengalaman belajar bermakna dan kontekstual. Kokurikuler diarahkan untuk mendukung pengembangan dimensi profil lulusan melalui pengalaman yang relevan dengan kehidupan peserta didik.

Dalam pelaksanaannya, kegiatan kokurikuler juga perlu melibatkan proses memahami, menerapkan, dan merefleksikan pengalaman belajar. Asesmen dapat dilakukan selama proses maupun pada akhir kegiatan untuk melihat perkembangan peserta didik melalui berbagai bentuk, seperti jurnal, observasi, tanya jawab, umpan balik, penilaian diri, karya, tindakan, maupun presentasi.


Dengan demikian, pembahasan dalam SERABI SOLO tidak berhenti pada pengenalan konsep kokurikuler, tetapi juga memberikan ruang bagi guru untuk melihat kembali kegiatan yang telah dilaksanakan dan menempatkannya dalam kerangka kokurikuler. Pemahaman tersebut dapat menjadi dasar bagi sekolah untuk mengembangkan kegiatan yang lebih terarah, kontekstual, dan sesuai dengan kebutuhan peserta didik.

Kegiatan ini sekaligus memperkuat peran guru dalam merancang pengalaman belajar yang tidak hanya berorientasi pada produk kegiatan, tetapi juga pada pembentukan karakter peserta didik. Sebagaimana ditekankan dalam materi, kegiatan kokurikuler diarahkan untuk membangun karakter melalui pengalaman nyata, sementara guru berperan sebagai role model, kolaborator, dan pengembang budaya sekolah.

Survey Kepuasan