Indonesia dalam PISA 2025: What next?
Oleh: Wahyu Widodo Samsudin, S.T., M.P.P.
Widyaiswara BBGTK Provinsi Jawa Tengah
Hasil PISA 2025 bukan sekadar statistik akademis, PISA adalah indikator utama daya saing ekonomi nasional di masa depan. Riset dari Stanford University memberikan estimasi yang mencengangkan, jika seluruh siswa usia 15 tahun di sebuah negara mampu mencapai tingkat kompetensi dasar (Level 2), hal tersebut dapat menambah lebih dari US$ 40 triliun bagi perekonomian negara tersebut sepanjang masa kerja mereka. Dalam lanskap global yang kompetitif, PISA sendiri bukan hanya sekedar tabel peringkat pencapaian performa akademis namun juga merupakan holy grail (cawan suci) yang menjadi petunjuk strategis yang mengukur kesiapan generasi muda untuk mengarungi kompleksitas dunia yang digerakkan oleh disrupsi teknologi dan perubahan iklim.
Bagi Indonesia, data ini merupakan instrumen diagnostik kritis. Kualitas modal manusia hari ini menentukan apakah kita akan memimpin dalam ekonomi pengetahuan atau sekadar menjadi penonton dalam transformasi digital. Untuk memahami betapa pentingnya PISA ini, kita harus membedah posisi Indonesia terhadap standar global (OECD) guna merumuskan langkah strategis yang konkret.
A. Apa yang telah Indonesia capai dalam PISA 2025?
Performa kognitif siswa Indonesia mencerminkan tantangan besar dalam membangun fondasi talenta nasional. Selisih skor dengan rerata OECD dan rerata negara-negara tetangga memberikan gambaran jelas mengenai defisit pembelajaran yang perlu segera dibenahi.
Bagan 1. Profil Capaian Indonesia
Pada PISA 2025, Indonesia mencatatkan skor rata-rata sebesar 389 pada domain Sains, 365 pada Membaca, dan 364 pada Matematika. Dibandingkan dengan hasil PISA 2022, Indonesia mengalami kenaikan skor pada bidang sains sebesar +6 poin dan membaca sebesar +7 poin, sementara skor matematika mengalami penurunan tipis sebesar -2 poin. Selain tiga domain utama tersebut, Indonesia meraih skor 427 pada domain Pemecahan Masalah Komputasional (Computational Problem Solving), yang menjadi capaian skor tertinggi di antara seluruh bidang yang diuji. Meski demikian, mayoritas siswa Indonesia (60,9%) masih berada di bawah tingkat kemahiran dasar (Level 2) untuk ketiga domain utama secara bersamaan.
Dilihat dari perbandingan gender, siswa perempuan di Indonesia secara konsisten mengungguli siswa laki-laki di seluruh domain pelajaran. Kesenjangan terbesar terjadi pada kemampuan membaca, di mana siswa perempuan meraih skor 377 sedangkan siswa laki-laki hanya meraih 353 (selisih 24 poin untuk keunggulan perempuan). Pada domain sains dan matematika, siswa perempuan juga unggul masing-masing sebesar 5 poin (391 vs 386) dan 6 poin (367 vs 361). Keunggulan siswa perempuan di ketiga bidang ini tergolong menarik karena di tingkat internasional (rata-rata OECD), siswa laki-laki umumnya mengungguli siswa perempuan dalam matematika dan sains.
Bagan 2. Komparasi capaian Indonesia dengan rerata OECD dan Asia Tenggara
Pada PISA 2025, capaian Indonesia masih mencatatkan kesenjangan yang cukup signifikan jika dibandingkan dengan rerata global (OECD) maupun rerata regional Asia Tenggara. Di tingkat global, skor Indonesia pada domain sains (389), membaca (365), dan matematika (364) tertinggal jauh di bawah rerata OECD yang masing-masing mencapai 482, 461, dan 463 poin, dengan selisih terbesar berada pada domain matematika (99 poin). Sementara di tingkat regional Asia Tenggara (rerata kawasan ASEAN), Indonesia juga berada di bawah rerata regional yang mencatatkan skor sains sebesar 432, membaca 402, dan matematika 418 poin, di mana ketertinggalan paling lebar terjadi pada domain matematika (54 poin) serta sains (43 poin).
Meskipun tertinggal pada tiga domain akademis tradisional, Indonesia menunjukkan daya tahan yang relatif lebih baik pada domain Pemecahan Masalah Komputasional (Computational Problem Solving). Pada domain berpikir digital ini, skor Indonesia mencapai 427 poin, yang menjadi selisih terkecil terhadap rerata OECD (500 poin, selisih 73 poin) maupun rerata Asia Tenggara (474 poin, selisih 47 poin). Hal ini mengindikasikan bahwa siswa Indonesia memiliki potensi adaptabilitas penalaran digital yang relatif lebih tinggi dibanding penguasaan literasi dan numerasi dasar, sehingga strategi pembenahan pendidikan ke depan perlu berfokus pada penguatan fondasi membaca kritis dan penalaran matematika tanpa mengabaikan modal keahlian komputasional yang telah terbentuk.
B. Diskusi Mengenai Temuan Hasil PISA 2025
1. Analisis Umum
Analisis Strategis “Human Capital Emergency”: Berdasarkan metrik OECD, 20 poin PISA setara dengan satu tahun pembelajaran formal. Dengan gap yang mendekati 100 poin pada bidang matematika dan membaca, siswa Indonesia tertinggal hampir lima tahun pembelajaran dibandingkan rekan-rekan mereka di negara-negara maju. Lebih krusial lagi, skor Matematika sebesar 364 menempatkan mayoritas siswa kita di bawah Level 2 baseline competence.
Data menunjukkan bahwa 60,9% siswa Indonesia adalah “Low Performers” di ketiga subjek utama (Sains, Membaca, dan Matematika). Ini adalah sebuah darurat sumber daya manusia; tanpa penguasaan kompetensi dasar ini, talenta Indonesia akan kesulitan untuk sekadar menginterpretasi data sederhana atau melakukan evaluasi terhadap informasi dalam kehidupan sehari-hari. Namun, skor Pemecahan Masalah Komputasi (427) yang merupakan titik kekuatan relatif menawarkan peluang “Digital Leapfrog” di mana potensi adaptasi digital siswa melampaui literasi tradisional mereka.
2. Resiliensi dan Dukungan Guru
Di balik angka-angka kognitif, Indonesia memiliki modal non-kognitif yang sangat kuat. Karakter dan lingkungan belajar di Indonesia menunjukkan resiliensi yang unik dibandingkan tren global. Laporan PISA 2025 menunjukkan lonjakan dukungan guru sains mengalami kenaikan dukungan guru yang signifikan sejak tahun 2015. Guru di Indonesia dinilai lebih proaktif dalam memberikan umpan balik dan membantu siswa memahami materi dibandingkan rata-rata global.
Kemudian Indonesia menunjukkan tren positif dalam aspek upaya siswa. Di tengah penurunan motivasi global, siswa Indonesia justru melaporkan peningkatan upaya saat menghadapi tantangan pembelajaran yang sulit. Semangat belajar dan dukungan guru ini adalah diferensiator utama. Meskipun hasil kognitif saat ini masih rendah, "modal sosial" di dalam kelas ini merupakan pondasi kokoh untuk melakukan lompatan kualitas jika diarahkan pada metode pembelajaran yang lebih tepat.
3. AI dan Tantangan Digitalisasi Pendidikan
Digitalisasi pendidikan adalah pisau bermata dua. PISA 2025 menegaskan bahwa tanpa literasi yang tepat, teknologi justru menjadi penghambat performa akademik. Dalam laporan PISA ini terdapat beberapa fenomena yang berhubungan dengan implikasi teknologi di pendidikan. Sekitar 28% siswa melaporkan gangguan dari perangkat digital di dalam kelas. Data menunjukkan bahwa penggunaan perangkat untuk hiburan di sekolah berkorelasi dengan penurunan skor, sementara penggunaan moderat untuk tujuan belajar meningkatkan hasil.
PISA juga menemukan bahwa siswa yang menggunakan chatbot AI sekadar untuk merangkum teks cenderung memiliki skor yang lebih rendah. Namun, skor meningkat ketika penggunaan AI dibarengi dengan pengembangan AI Literacy Skills. Terlebih lagi jumlah siswa yang membaca secara tergesa-gesa (memberikan jawaban cepat namun salah) meningkat hampir dua kali lipat sejak 2018. Hal ini mengancam kemampuan berpikir mendalam
4. Wawasan Lingkungan
Temuan PISA 2025 menunjukkan adanya potensi luar biasa dalam hal Environmental Agency di Indonesia, yang memiliki implikasi langsung bagi sektor korporasi dan agenda ESG (Environmental, Social, and Governance). Lebih dari 90% siswa Indonesia menyatakan ketertarikan untuk berkontribusi pada perlindungan lingkungan melalui karir masa depan mereka dimana angka ini jauh melampaui rata-rata OECD (62%).
Meskipun memiliki kepedulian tinggi, terdapat celah antara semangat lingkungan dan profisiensi sains lingkungan. Tanpa penguatan literasi sains, aspirasi ini berisiko menjadi sekadar sentimen tanpa kemampuan teknis untuk mengeksekusi solusi berkelanjutan.Sektor industri yang mengadopsi prinsip ESG akan menemukan talenta yang sangat bersemangat di Indonesia. Tantangan bagi sistem pendidikan adalah menyelaraskan minat ini dengan kemampuan ilmiah agar talenta nasional mampu menjadi berkontribusi terhadap keberlanjutan lingkungan.
5. Keterlibatan Orang Tua
Dukungan Keluarga Harian Masih Perlu Ditingkatkan: Laporan menunjukkan bahwa indeks dukungan keluarga harian yang dirasakan siswa Indonesia tergolong rendah, yaitu -0.60 (berada di bawah rerata OECD sebesar -0.19). Interaksi harian yang sederhana seperti orang tua bertanya tentang kegiatan sekolah anak atau mendiskusikan pengalaman belajar di sekolah relatif jarang terjadi secara konsisten. Padahal, data PISA membuktikan bahwa perhatian harian orang tua memiliki korelasi positif paling kuat dengan peningkatan performa belajar siswa.
6. School Trust dan Growth Mindset
Indonesia masuk dalam kelompok negara teratas di dunia di mana mayoritas siswanya percaya bahwa pembelajaran di sekolah sangat berguna dan mempersiapkan mereka untuk kehidupan dewasa serta dunia kerja. Sementara itu dalam Growth Mindset, baru 30.2% siswa Indonesia yang memiliki growth mindset (keyakinan bahwa kecerdasan dan kemampuan dapat dikembangkan melalui usaha), sementara rerata OECD mencapai 69.3%. Sebagian besar siswa masih cenderung menganggap kecerdasan sebagai bakat bawaan yang tetap.
C. Rekomendasi
Hasil PISA 2025 adalah katalisator bagi reformasi pendidikan Indonesia. Angka-angka ini menegaskan bahwa kita tidak bisa lagi hanya mengejar kuantitas cakupan kurikulum, melainkan harus beralih ke kualitas penguasaan secara mendalam. Untuk itu Indonesia perlu melakukan intervensi seperti:
1. Mengutamakan penguasaan mendalam pada kompetensi dasar daripada mengejar materi kurikulum yang banyak namun tidak mendalam.
Mengurangi kepadatan materi dan mengalihkan fokus pada kedalaman pemahaman (deep learning) memungkinkan siswa membangun struktur penalaran yang kokoh, mengaitkan konsep antar-sumber, serta menguasai keterampilan penalaran sains dan matematika secara rasional sebelum melangkah ke materi yang lebih kompleks.
2. Menetapkan pedoman penggunaan perangkat yang ketat untuk meminimalkan gangguan non-instruksional di kelas.
Penggunaan gawai tanpa batasan terbukti memecah fokus, mengurangi waktu belajar efektif, dan menurunkan daya ingat siswa. Laporan menunjukkan bahwa sekolah yang menerapkan kebijakan tegas—seperti larangan penggunaan ponsel (cell phone bans) atau aturan berbasis mata pelajaran—mampu secara signifikan menekan angka gangguan belajar dan menciptakan iklim kelas yang lebih kondusif bagi pembelajaran mendalam.
3. Mengintegrasikan keterampilan berpikir kritis yang bersifat evaluatif terhadap informasi yang dihasilkan AI ke dalam kurikulum inti.
PISA 2025 menemukan bahwa siswa yang dibekali kesempatan belajar untuk menilai kualitas informasi digital dan luaran AI secara kritis di sekolah meraih capaian sains yang lebih tinggi dan lebih mampu memanfaatkan AI secara terarah. Oleh karena itu, kurikulum tidak cukup hanya mengajarkan cara menggunakan alat digital, melainkan harus melatih siswa berpikir epistemik (mempertanyakan klaim, memverifikasi fakta, dan tidak menelan mentah-mentah informasi hasil olahan AI)
4. Mendorong pembelajaran menggunakan masalah yang kompleks sesuai dengan umurnya untuk dipecahkan oleh siswa
Melalui metode pembelajaran berbasis masalah (problem-based learning) dan penalaran komputasional, siswa dilatih melakukan pengujian hipotesis, menganalisis data, dan merancang solusi secara berulang (iterative). Di Indonesia, skor Pemecahan Masalah Komputasional (427) yang lebih tinggi dibanding domain konvensional membuktikan bahwa siswa Indonesia memiliki potensi adaptabilitas penalaran yang besar jika diberikan tantangan pemecahan masalah yang terstruktur dan relevan dengan usianya.
5. Mendorong keterlibatan orang tua dalam memotivasi, memfasilitasi dan mengawasi proses belajar anak.
Analisis PISA 2025 menunjukkan bahwa dukungan keluarga melalui interaksi seperti menanyakan kegiatan sekolah anak, mendiskusikan kesulitan yang dihadapi, dan memberikan perhatian pada perkembangan belajar memiliki korelasi positif paling kuat dengan peningkatan prestasi akademis serta pembentukan aspirasi pendidikan tinggi. Orang tua bertindak sebagai lingkungan belajar pertama yang membentuk pola pikir berkembang (growth mindset), ketahanan emosional, dan kedisiplinan belajar di rumah. Keterlibatan orang tua yang fasilitatif dan suportif (bukan sekadar dorongan mekanis) terbukti menjadi penentu utama keberhasilan siswa di sekolah
6. Meningkatkan kapasitas guru mulai dari pra sekolah sampai tingkat menengah dalam menciptakan pembelajaran kontekstual yang mendukung literasi, numerasi dan sains.
Guru merupakan faktor penentu terpenting dalam kualitas pembelajaran di sekolah. Temuan PISA 2025 menegaskan bahwa persepsi siswa terhadap dukungan guru seperti guru yang bersabar menjelaskan hingga siswa paham, memberikan umpan balik konstruktif, dan memfasilitasi diskusi aktif. Perilaku guru tersebut berhubungan langsung dengan tingginya rasa ingin tahu, rasa memiliki (sense of belonging), serta capaian belajar siswa. Program peningkatan kompetensi guru secara berkelanjutan dan komprehensif (sejak jenjang PAUD hingga menengah) sangat krusial agar guru mampu mentransformasi materi literasi, numerasi, dan sains menjadi pembelajaran kontekstual yang interaktif, eksploratif, dan bermakna bagi siswa