Rancangan
Pembelajaran Smart Kunci Sukses STEM
Salah satu alasan mengapa guru tertari menerapkan STEM karena
”si dia” dipandang sebagai pendekatan pembelajaran yang dapat memantik murid
untuk berpikir, mengeksplorasi, mencoba, dan berusaha menemukan solusi terhadap
berbagai persoalan secara holistik dan berkaitan dengan materi tersaji.
Pembelajaran STEM tidak hanya mendorong murid memahami konsep, tetapi juga
memberikan ruang bagi mereka untuk menghubungkan pengetahuan dengan persoalan
nyata melalui aktivitas penyelidikan, perancangan, pembuatan, pengujian, dan
perbaikan suatu solusi. Karakteristik tersebut membuat STEM semakin menarik
bagi guru, karena dinilai selaras dengan kebutuhan pembelajaran yang
menempatkan murid sebagai pembelajar aktif sekaligus mengembangkan keterampilan
berpikir kritis, kreatif, kolaboratif, komunikatif, dan problem solving.
Namun, meningkatnya ketertarikan tersebut tidak selalu diikuti
dengan kemudahan dalam merancang pembelajaran STEM. Ketika mulai menyusun
pembelajaran, guru sering dihadapkan pada pertanyaan mendasar: ”Bagaimana saya akan memulai?, Apakah pembelajaran diawali
dengan menentukan proyek STEM, memilih tema atau persoalan kontekstual, atau
terlebih dahulu mengidentifikasi capaian pembelajaran yang harus dicapai?”
Pertanyaan tersebut menjadi penting karena pembelajaran STEM pada dasarnya
bukan sekadar menambahkan kegiatan proyek ke dalam pembelajaran. Pelajaran STEM
memerlukan keterpaduan antara tujuan pembelajaran, konsep yang dipelajari,
proses penyelidikan, dan proses perancangan solusi.
Dalam praktiknya, tidak sedikit guru terjebak!, karena meraka
memulai dari proyek yang dianggap menarik atau dari produk yang ingin dibuat
murid, kemudian berusaha mencocokkannya dengan capaian pembelajaran dari
berbagai mata pelajaran. Cara tersebut memang dapat menghasilkan aktivitas yang
menarik, tetapi berpotensi menyebabkan integrasi antar komponen pembelajaran
menjadi kurang kuat. Proyek dapat berjalan dengan baik sebagai sebuah kegiatan,
tetapi hubungan antara persoalan yang dihadapi, konsep yang harus dipahami,
proses engineering design, dan capaian pembelajaran yang ditargetkan
belum tentu terbentuk secara utuh. Pada titik inilah muncul kebutuhan akan
suatu kerangka yang dapat membantu guru menentukan titik awal dan alur
perancangan pembelajaran STEM secara sistematis, sehingga keterlibatan murid
dalam menemukan solusi tetap berjalan seiring dengan ketercapaian tujuan
pembelajaran.
Membangun Pengalaman Pembelajaran Tanpa
Melupakan Tujuan
Tantangan utama dalam implementasi STEM bukan semata-mata
terletak pada kemampuan guru menemukan ide proyek yang menarik. Tantangan
terbesarnya adalah bagaimana merancang hubungan yang bermakna antara persoalan,
konsep, proses berpikir, dan solusi yang dikembangkan murid. Pembelajaran STEM
yang terintegrasi menuntut adanya hubungan yang jelas antara pengetahuan sains
dan matematika, pemanfaatan teknologi, serta proses rekayasa dalam menghasilkan
dan menguji suatu solusi. Dengan demikian, proyek dalam pembelajaran STEM
seharusnya tidak ditempatkan sebagai tujuan akhir, melainkan sebagai wahana
yang memungkinkan murid menggunakan pengetahuan dan keterampilan secara terpadu
untuk memahami masalah dan mengembangkan solusi.
Dalam konteks tersebut, Engineering Design Process (EDP)
memiliki posisi yang strategis karena menyediakan struktur berpikir dan
bertindak yang memungkinkan proses integrasi tersebut berlangsung secara nyata.
Melalui EDP, murid tidak sekadar membuat suatu produk, tetapi diajak
mengidentifikasi masalah, menetapkan kebutuhan dan kriteria, mengembangkan
berbagai alternatif solusi, memilih dan merancang solusi, membuat prototipe,
menguji, menganalisis hasil, serta melakukan perbaikan. Setiap tahapan tersebut
membuka peluang bagi masuknya konsep sains, penggunaan penalaran matematis,
pemanfaatan teknologi, serta keterampilan proses yang diperlukan untuk
menghasilkan solusi. Dengan demikian, EDP dapat berfungsi sebagai penghubung
yang membuat integrasi STEM tidak berhenti pada penggabungan beberapa mata
pelajaran, tetapi berkembang menjadi pengalaman belajar yang benar-benar
terpadu.
Namun demikian, menempatkan EDP sebagai penggerak pembelajaran
STEM juga tidak berarti bahwa seluruh proses pembelajaran harus berangkat dari
aktivitas rekayasa semata. Guru tetap perlu memastikan bahwa proses tersebut
berangkat dari tujuan pembelajaran dan memberikan kesempatan yang memadai bagi
murid untuk membangun pemahaman konseptual. Di sisi lain, proses penyelesaian
masalah melalui EDP juga membutuhkan kemampuan murid dalam mengamati fenomena,
mengajukan pertanyaan, mengumpulkan dan menganalisis data, menggunakan bukti,
menarik kesimpulan, serta memberikan alasan terhadap keputusan yang diambil.
Dengan kata lain, pembelajaran STEM yang kuat memerlukan keterhubungan antara
Engineering Design, keterampilan proses sains, dan kemampuan penalaran ilmiah,
dengan memanfaatkan teknologi digital yang dapat berperan sebagai sarana untuk
memperluas proses eksplorasi, pemodelan, komunikasi, dokumentasi, dan evaluasi.
Oleh karena itu, kebutuhan yang muncul bukan sekadar bagaimana
menyediakan lebih banyak contoh proyek STEM bagi guru, tetapi bagaimana
membantu guru memahami bagaimana sebuah pembelajaran STEM dirancang sejak awal
hingga menghasilkan pengalaman belajar yang terintegrasi. Kerangka perancangan
yang diperlukan perlu mampu menunjukkan titik awal pembelajaran, hubungan
antara masalah dan capaian pembelajaran, posisi konsep-konsep yang dipelajari,
proses engineering design yang digunakan, keterampilan proses sains dan
penalaran yang dikembangkan, serta bagaimana teknologi digital dimanfaatkan
secara bermakna. Kerangka semacam ini diharapkan dapat membantu guru berpindah
dari pola “mencari proyek kemudian mencocokkannya
dengan pembelajaran” menuju pola “merancang
pengalaman belajar berdasarkan tujuan, masalah, proses, dan kompetensi yang
ingin dibangun”.
Strategi Sederhana Menyusun Rancangan
Pembelajaran STEM
Berdasarkan prinsip tersebut, menyusun rancangan pembelajaran
STEM dapat disederhanakan ke dalam empat langkah utama, yaitu (1) menentukan
capaian pembelajaran, (2) menentukan topik pembelajaran STEM, (3) menentukan
strategi pelaksanaan proses saintifik dan engineering, dan (4) menyusun
rancangan pembelajaran STEM. Keempat langkah tersebut disusun secara berurutan
agar pembelajaran tidak dimulai dari pemilihan proyek atau produk, tetapi dari
tujuan pembelajaran yang kemudian dikembangkan menjadi pengalaman belajar yang
memungkinkan murid menggunakan pengetahuan dan keterampilannya untuk memahami
masalah dan menghasilkan solusi.
1. Menentukan Capaian Pembelajaran yang
menjadi prioritas
Langkah pertama adalah menentukan Capaian Pembelajaran (CP) atau
Tujuan Pembelajaran (TP) yang menjadi prioritas. Guru perlu mengidentifikasi
pengetahuan, keterampilan, dan kemampuan yang diharapkan dikuasai murid setelah
mengikuti pembelajaran. Dalam pembelajaran STEM, kurikulum tetap menjadi titik
awal karena STEM merupakan pendekatan pembelajaran, bukan tujuan akhir.
Pada tahap ini guru tidak perlu terlebih dahulu memikirkan
proyek atau produk yang akan dibuat murid. Pertanyaan utama yang perlu dijawab
adalah: “Apa yang harus dipelajari dan dikuasai murid?” Setelah CP atau TP
utama ditentukan, guru dapat mengidentifikasi konsep atau kompetensi dari
disiplin lain yang dapat mendukung pencapaiannya. Dengan demikian, integrasi
STEM dibangun berdasarkan kebutuhan pembelajaran, bukan karena keinginan untuk
memasukkan semua unsur STEM ke dalam satu kegiatan.
2. Menentukan Topik Pembelajaran STEM
Setelah CP atau TP ditentukan, langkah berikutnya adalah memilih
topik pembelajaran yang memungkinkan capaian tersebut dikembangkan melalui
pendekatan STEM. Topik tidak hanya dipahami sebagai materi yang akan diajarkan,
tetapi sebagai konteks yang dapat menghadirkan fenomena atau masalah nyata yang
memungkinkan murid menggunakan pengetahuan dari berbagai disiplin ilmu secara
terpadu.
Pada tahap ini guru terlebih dahulu mengidentifikasi topik atau
fenomena yang memiliki keterkaitan dengan capaian pembelajaran yang telah
ditentukan. Selanjutnya, guru mencari masalah nyata yang dapat digunakan
sebagai konteks pembelajaran. Masalah tersebut sebaiknya dekat dengan kehidupan
murid, cukup kompleks untuk memerlukan lebih dari satu perspektif keilmuan,
serta memungkinkan dikembangkan menjadi tantangan yang dapat diselesaikan
melalui proses engineering.
Misalnya, pada topik pencemaran lingkungan, guru dapat
mengangkat persoalan pencemaran udara di lingkungan sekolah melalui pertanyaan:
“Bagaimana mengurangi pencemaran udara
di lingkungan sekolah?”
Masalah tersebut kemudian dapat dikembangkan menjadi tantangan
STEM, misalnya:
“Rancang dan buat alat penyaring udara
sederhana dari bahan yang mudah diperoleh untuk membantu mengurangi partikel
pencemar di ruang kelas.”
Setelah topik dan masalah ditentukan, guru memetakan hubungan
interdisipliner yang diperlukan untuk memahami masalah dan mengembangkan
solusi. Pemetaan ini dilakukan dengan mengidentifikasi kontribusi masing-masing
disiplin terhadap satu persoalan yang sama. Dengan demikian, integrasi tidak
dilakukan dengan sekadar menempatkan beberapa mata pelajaran dalam satu proyek,
tetapi dengan menemukan hubungan fungsional antardisiplin.
Sebagai contoh, persoalan pencemaran udara dapat melibatkan
beberapa disiplin sebagai berikut:
Tabel 1. Contoh topik Pencemaran udara untuk pembelajaran STEM
Hubungan tersebut menunjukkan bahwa setiap disiplin memiliki
fungsi yang berbeda tetapi saling bergantung dalam proses penyelesaian masalah.
Pengetahuan Science membantu murid memahami mengapa masalah terjadi;
Mathematics membantu mereka menentukan seberapa besar atau bagaimana masalah
dapat diukur; Technology membantu memperoleh, mengolah, dan menggunakan
informasi atau data; sedangkan Engineering membantu murid menentukan bagaimana
solusi dapat dirancang, dibuat, diuji, dan diperbaiki.
Pada tahap ini guru juga perlu memastikan bahwa hubungan
antardisiplin tersebut memiliki kontribusi terhadap pencapaian CP atau TP.
Tidak semua unsur STEM harus selalu muncul dengan bobot yang sama dalam setiap
pembelajaran. Suatu pembelajaran dapat memiliki dominasi Science dengan
dukungan Mathematics dan Engineering, atau sebaliknya, selama hubungan
antardisiplin tersebut memiliki tujuan yang jelas dan memberikan kontribusi
terhadap penyelesaian masalah.
Dengan demikian, hasil utama dari langkah kedua bukan hanya
berupa topik pembelajaran, tetapi juga masalah atau tantangan STEM serta peta
hubungan interdisipliner yang menunjukkan bagaimana berbagai disiplin ilmu
saling berkontribusi dalam membangun pemahaman dan menghasilkan solusi.
3. Menentukan Strategi Pelaksanaan
Proses Saintifik dan Engineering
Langkah ketiga adalah menentukan
bagaimana murid akan belajar melalui proses saintifik dan engineering.
Pada tahap ini guru merancang pengalaman belajar yang memungkinkan murid tidak
hanya memahami konsep, tetapi juga menggunakan pengetahuan tersebut untuk
menyelidiki masalah dan mengembangkan solusi.
Gambar
1. Alur Pembelajaran STEM Terintegrasi
Gambar 1 menunjukkan strategi
pengintegrasian proses saintifik dan engineering. Proses saintifik dapat
diwujudkan melalui kegiatan mengamati fenomena, mengajukan pertanyaan,
mengidentifikasi informasi yang diperlukan, melakukan penyelidikan atau
pengukuran, mengumpulkan dan menganalisis data, menggunakan bukti, serta
menarik kesimpulan. Sementara itu, proses engineering dapat dilakukan
melalui kegiatan memahami masalah, menetapkan kriteria dan batasan,
mengembangkan alternatif solusi, memilih dan merancang solusi, membuat
prototipe, menguji, mengevaluasi, dan memperbaiki desain.
Kedua proses tersebut tidak harus
berjalan sebagai dua kegiatan yang terpisah. Justru, kekuatan pembelajaran STEM
terletak pada bagaimana proses saintifik dan engineering saling
mendukung. Murid menggunakan proses saintifik untuk memperoleh pengetahuan dan
bukti yang diperlukan dalam merancang solusi, sementara proses engineering
memberikan konteks dan kebutuhan nyata bagi murid untuk menggunakan pengetahuan
tersebut.
Pada tahap ini guru juga menentukan
bagaimana teknologi digital dimanfaatkan secara fungsional dalam pembelajaran.
Teknologi dapat digunakan untuk mencari dan mengorganisasi informasi, melakukan
pengukuran melalui sensor, mencatat dan mengolah data, membuat simulasi atau
model, mendokumentasikan proses desain, berkolaborasi, maupun mengomunikasikan
hasil. Dengan demikian, teknologi digital tidak ditempatkan sebagai tambahan
kegiatan, tetapi digunakan ketika mampu memperkuat proses saintifik atau engineering.
Hasil utama dari langkah ketiga adalah
strategi dan alur pengalaman belajar murid, termasuk proses saintifik, Engineering
Design Process, penggunaan teknologi, serta keterampilan yang akan
dikembangkan.
4. Menyusun Rancangan Pembelajaran STEM
Langkah terakhir adalah mengintegrasikan
hasil dari ketiga langkah sebelumnya ke dalam rencana pembelajaran STEM yang
utuh. Pada tahap ini guru menyusun tujuan pembelajaran, kegiatan pembelajaran,
sumber dan media belajar, pengorganisasian murid, pemanfaatan teknologi, serta
asesmen.
Rencana pembelajaran disusun dengan
memastikan adanya keterkaitan yang jelas antara capaian pembelajaran, topik dan
masalah, proses saintifik, proses engineering, serta bukti ketercapaian
belajar. Setiap aktivitas yang dirancang perlu memiliki fungsi yang jelas dalam
membantu murid mencapai tujuan pembelajaran.
Asesmen juga dirancang tidak hanya untuk
menilai produk akhir, tetapi untuk memperoleh bukti mengenai proses dan
perkembangan belajar murid. Aspek yang dapat dinilai meliputi pemahaman konsep,
keterampilan proses sains, kemampuan menggunakan bukti dan penalaran, kemampuan
merancang dan memperbaiki solusi, penggunaan matematika dan teknologi,
kolaborasi, komunikasi, serta refleksi terhadap proses dan hasil.
Dengan demikian, rencana pembelajaran
STEM bukan sekadar rencana kegiatan membuat suatu produk. Rencana pembelajaran
merupakan sebuah skenario untuk memberikan pengalaman belajar yang
menghubungkan tujuan pembelajaran dengan masalah nyata, proses saintifik,
proses engineering, pemanfaatan teknologi, dan asesmen dalam suatu alur
pembelajaran yang terpadu.
Alur tersebut memberikan titik awal yang
jelas bagi guru sekaligus mencegah pembelajaran STEM dirancang hanya
berdasarkan proyek yang menarik. Proyek atau produk menjadi bagian dari proses
pembelajaran, sedangkan arah keseluruhan pembelajaran tetap ditentukan oleh
capaian yang ingin dicapai dan pengalaman belajar yang diperlukan murid untuk
mencapainya.
Apakah Pembelajaran STEM Kita
Berorientasi pada Proyek atau pada Pembelajaran?
Pada praktiknya, pembelajaran STEM terkadang dimulai dari
sesuatu yang ingin dibuat, bukan dari sesuatu yang ingin dipelajari. Guru
sering lupa, bahwa dalam pembelajaran, yang ingin dituntaskan adalah capaian
pembelajaran. Guru mungkin memiliki gagasan yang menarik, seperti “Saya
ingin membuat robot,” “Saya ingin membuat hidroponik,” atau “Saya
ingin membuat jembatan dari stik es krim.” Gagasan tersebut tentu bukan
sesuatu yang keliru. Justru proyek-proyek semacam itu dapat menjadi pengalaman
belajar yang menarik bagi murid. Persoalan muncul ketika proyek telah
ditentukan terlebih dahulu, kemudian guru mencari-cari Capaian Pembelajaran
(CP) atau tujuan pembelajaran yang dianggap sesuai dengan proyek tersebut.
Pola seperti ini perlu menjadi bahan refleksi. Ketika proyek
menjadi titik awal sekaligus pusat pembelajaran, integrasi antardisiplin
berpotensi dilakukan secara dipaksakan. Guru mungkin dapat menyisipkan Science,
Mathematics, Technology, dan Engineering hanya agar pembelajaran tampak seperti
pembelajaran STEM.
Pada saat itu, asesmen yang digunakan menjadi kurang jelas untuk
mengukur apa? Karena lebih mudah dan
terlihat adalah mengukur keberhasilan produk. Sementara itu pengetahuan dan
keterampilan yang seharusnya dibangun melalui proses pembelajaran belum tentu
terukur. Akibatnya, kegiatan dapat berlangsung menarik dan menghasilkan produk
yang baik, tetapi tidak seluruh capaian pembelajaran atau tujuan pembelajaran
yang direncanakan benar-benar tercapai. Bahkan karena terlalu serius membangun
produk,guru menjadi lupa dengan capaian pembelajaran yang akan dituntaskan.
Penutup
Nah guru pada implementasi pembelajaran STEM. Panjenengan tidak
memulai dari proyek yang menarik. Panjenengan dapat mulai dari merancang
kompetensi yang akan dikuasai oleh murid, masalah nyata, dan solusi bermakna. STEM merupakan sarana untuk
menuntaskan capaian pembelajaran melalui pemecahan masalah nyata dengan
memadukan proses saintifik dan proses rekayasa.
Penting bagi guru untuk mampu membedakan pembelajaran yang
berorientasi pada proyek (project-oriented) dan pembelajaran yang
berorientasi pada proses belajar (learning-oriented). Sehingga
pembelajaran yang dirancang dapat memberikan pengalaman belajar yang
menggembirakan, mindfull dan meaningfull.
Daftar Pustaka
Bybee,
R. W. (2013). The case for STEM education: Challenges and opportunities.
NSTA Press.
Kelley,
T. R., & Knowles, J. G. (2016). A conceptual framework for integrated STEM
education. International Journal of STEM Education, 3(11), 1-11. https://doi.org/10.1186/s40594-016-0046-z
National
Research Council. (2012). A framework for K-12 science education: Practices,
crosscutting concepts, and core ideas. National Academies Press.
Ministry
of Education and Culture Republic of Indonesia. (2022). Keputusan Kepala
Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan Nomor 008/H/KR/2022 tentang
capaian pembelajaran pada pendidikan anak usia dini, jenjang pendidikan dasar,
dan jenjang pendidikan menengah pada Kurikulum Merdeka. Kemendikbudristek.
Capraro,
R. M., Capraro, M. M., & Morgan, J. R. (Eds.). (2013). STEM
project-based learning: An integrated science, technology, engineering, and
mathematics (STEM) approach (2nd ed.). Sense Publishers.
Wells,
J. G. (2016). PIRPOSAL model of integrative STEM education. Technology and
Engineering Teacher, 75(6), 12-19.