Tingkatkan Kompetensi Kepemimpinan, 37 Kepala Sekolah SMA Kendal Lakukan Kunjungan Belajar ke BBGTK Jateng
Karanganyar (23 September 2026) – Sebanyak 37 kepala sekolah yang tergabung dalam Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) SMA Kabupaten Kendal menggelar kegiatan kunjungan belajar ke BBGTK Jateng pada Rabu ini (23/09/2026). Kegiatan ini diinisiasi sebagai langkah nyata dalam meningkatkan wawasan, pengetahuan, serta kompetensi para pemimpin sekolah di wilayah Kabupaten Kendal.
Kunjungan yang bertempat di BBGTK Jateng, Gondangrejo, Kabupaten Karanganyar ini berfokus pada tema utama "Membangun Kolaborasi Kepemimpinan Kepala Sekolah". Melalui tema tersebut, para peserta diharapkan dapat memperkuat sinergi, berbagi praktik baik, dan mengadopsi strategi kepemimpinan yang adaptif untuk diterapkan di sekolah masing-masing.
Tantangan pengelolaan pendidikan saat ini memerlukan kompetensi kepemimpinan yang kolaboratif. Kunjungan ke BBGTK Jateng dipandang sebagai momen strategis mengingat lembaga tersebut menjadi pusat pengembangan mutu guru dan tenaga kependidikan di tingkat provinsi.
Selama kunjungan berlangsung, ke-37 kepala sekolah tersebut mengikuti serangkaian pemaparan program, diskusi interaktif, dan peninjauan fasilitas guna mendalami metode-metode baru dalam supervisi akademik serta manajerial.
Melalui pendekatan yang interaktif, narasumber kegiatan, Waryono, memandu para kepala sekolah untuk mendalami esensi siklus Inkuiri Kolaboratif. Metode ini diproyeksikan agar para peserta mampu menganalisis permasalahan nyata dalam pengelolaan kelompok kerja di sekolah, menyusun solusi berbasis data, hingga merancang rencana tindak lanjut (RTL) yang konkret.
Salah satu daya tarik utama dalam workshop ini adalah penugasan kelompok bertajuk "Menggambar Bersama Tanpa Bicara". Dalam simulasi ini, setiap kelompok yang terdiri dari 5-8 orang diminta menggambar sebuah sekolah ideal di atas kertas plano tanpa boleh berkomunikasi verbal maupun menggunakan isyarat.
Pada putaran pertama, hasil gambar yang dibuat tanpa komunikasi cenderung tidak utuh dan kurang selaras. Melalui refleksi pasca-simulasi, para peserta menyadari adanya kemiripan kondisi tersebut dengan kelompok kerja di sekolah yang sering kali berjalan sendiri-sendiri tanpa arah dan visi bersama.
Setelah itu, simulasi dilanjutkan dengan menerapkan tahapan Siklus Inkuiri Kolaboratif secara langsung, yang meliputi:
Assess (Mengidentifikasi Masalah): Menilai kelemahan, penyebab, dan bukti dari gambar pertama.
Design (Merancang Strategi): Membuat kesepakatan tertulis mengenai pembagian tugas dan objek gambar.
Implement (Melaksanakan Strategi): Menggambar ulang sekolah ideal, kali ini dengan ruang diskusi yang terbuka.
Measure, Reflect, Change: Membandingkan kedua hasil gambar untuk mengukur indikator keberhasilan dan merancang perbaikan berkelanjutan.
Dari hasil komparasi, gambar pada putaran kedua terbukti jauh lebih baik, sinergis, dan terstruktur. Filosofi dari permainan ini menegaskan bahwa seorang kepala sekolah tidak bisa serta-merta memberikan solusi instan secara sepihak. Kepala sekolah berkewajiban merangkul para guru untuk mengidentifikasi masalah, mengkaji data lapangan, merancang solusi bersama, serta mengawal pelaksanaan hingga tahap refleksi.
Kegiatan ditutup dengan refleksi individu dan komitmen tertulis dari seluruh kepala sekolah yang hadir. Melalui penguatan ini, diharapkan kelompok kerja di SMA Kabupaten Kendal dapat bertransformasi penuh menjadi wadah kolaborasi profesional yang berorientasi pada keberhasilan murid, serta beralih dari ego sektoral menuju sinergi tim yang solid.
Melalui kunjungan belajar ini, MKKS SMA Kabupaten Kendal berkomitmen untuk membawa perubahan positif sekembalinya ke daerah asal, demi meningkatkan mutu pembelajaran dan mencetak generasi didik yang unggul di Kabupaten Kendal.
“Tim yang hebat tidak menahan diri satu sama lain. Mereka tidak takut untuk membicarakan masalah mereka. Mereka mengakui kesalahan, kelemahan, dan kekhawatiran mereka tanpa takut akan pembalasan."
-Patrick Lencioni-