Balai Besar Guru dan Tenaga Kependidikan (BBGTK) Provinsi Jawa Tengah adalah Unit Pelaksana Teknis Bidang Guru dan Tenaga Kependidikan - Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah yang mempunyai tugas melaksanakan Pengembangan dan Pemberdayaan Guru, Pendidik lainnya, Tenaga Kependidikan, Calon Kepala Sekolah, Kepala Sekolah, Calon Pengawas Sekolah, dan Pengawas Sekolah di Provinsi Jawa Tengah.

Komik ini hadir untuk memberikan pemahaman dan informasi terkait berbagai pertanyaan yang sering diajukan oleh SahabatEdu kepada BBGTK Provinsi Jawa Tengah.
Dandiyu Seno, seorang guru dari SD Negeri Samaran, Kecamatan Pamotan, Kabupaten Rembang, sukses mengukir prestasi gemilang dengan terpilih sebagai salah satu dari tiga peserta terbaik dalam ajang penulisan praktik baik pendidikan. Penghargaan ini diraih berkat artikelnya yang mengangkat inovasi pembelajaran berbasis lingkungan bertajuk "Pena Berseri" dan gerakan "Gelis".
Selengkapnya
Kegiatan ini mengusung tema "Kecerdasan Artifisial untuk Mendukung Pembelajaran Mendalam". Melalui tema tersebut, para pendidik PAUD diharapkan mampu mengintegrasikan teknologi digital dalam proses belajar mengajar anak usia dini. Selain memperluas wawasan inovasi digital, pelatihan ini difokuskan untuk meningkatkan kompetensi pedagogik guru secara komprehensif.
Selengkapnya
BBGTK Jateng menyelenggarakan kegiatan Apel rutin secara luar jaringan (luring) pada Senin, 31 Agustus 2026. Berpusat di Aula Lantai 5 Gedung BBGTK Jateng, kegiatan yang dimulai tepat pukul 07.30 WIB ini menjadi momentum penting untuk memperkuat koordinasi, komunikasi program, sekaligus melepas pegawai yang mendapatkan tugas mutasi.
Selengkapnya
Dinas Pendidikan Kabupaten Grobogan menggelar Pelatihan Bakal Calon Kepala Sekolah (BCKS) tahun 2026 bekerja sama dengan BBGTK Jateng untuk menyiapkan pemimpin sekolah yang kompeten. Kegiatan strategis ini diikuti oleh 202 guru berprestasi yang telah lolos seleksi substansi, terdiri atas 1 guru TK, 178 guru SD, dan 23 guru SMP. Pelatihan yang berlangsung dari tanggal 22 s.d. 31 Agustus 2026 dihadiri oleh Bapak Iwan Junaedi, Direktur Kepala Sekolah, Pengawas Sekolah dan Tenaga Kependidikan Kemendikdasmen
Selengkapnya
Implementasi kurikulum merdeka menuntut transformasi mendasar pada proses pembelajaran di kelas, salah satunya melalui pengimplementasian pada pendekatan pembelajaran mendalam (deep learning). Pendekatan pembelajaran mendalam mendorong murid untuk memahami konsep secara komprehensif, berpikir kritis, serta mengaplikasikan pengetahuan dalam situasi dunia nyata.
Selengkapnya
Keterampilan Proses Sains memegang peranan krusial dalam era pendidikan modern karena berfungsi sebagai fondasi utama yang mengubah murid dari sekadar penerima informasi pasif menjadi pembelajar aktif yang mampu bernalar secara ilmiah. Tanpa KPS, penguasaan konsep sains hanya akan berhenti pada hafalan teori yang rentan dilupakan dan sulit diaktualisasikan dalam kehidupan nyata
Selengkapnya
Pendekatan pembelajaran STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics) saat ini telah berkembang menjadi paradigma utama dalam pendidikan modern untuk menyiapkan murid menghadapi tantangan abad ke-21. Dalam praktiknya di sekolah, khususnya pada kegiatan kokurikuler, pembelajaran STEM sering kali difokuskan pada penggabungan antardisiplin ilmu untuk memecahkan masalah konseptual. Namun, fakta di lapangan menunjukkan bahwa pelaksanaan STEM kerap kali hanya berhenti pada taraf pemahaman teori atau proyek kerajinan tangan (crafting) sederhana tanpa mengintegrasikan proses penalaran ilmiah dan perancangan rekayasa (engineering design process) secara mendalam. Akibatnya, pemahaman murid terhadap integrasi interdisipliner masih cenderung dangkal dan kurang melatih keterampilan berpikir kritis serta pemecahan masalah kontekstual yang nyata.
Selengkapnya
Dalam praktik pendidikan abad ke-21, istilah STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics) dan Engineering Design Process (EDP) semakin populer digunakan dalam ruang-ruang kelas. Namun, di balik antusiasme tersebut, terdapat kekeliruan mendasar yang kerap terjadi di kalangan pendidik: ketidakmampuan membedakan antara pendekatan multidisipliner dan interdisipliner. Banyak guru mengira bahwa ketika sebuah proyek melibatkan materi dari dua atau tiga mata pelajaran berbeda dalam satu tema besar, mereka telah berhasil menerapkan pembelajaran interdisipliner. Padahal, dalam banyak kasus, yang terjadi hanyalah penumpukan materi paralel (multidisciplinary parallel structure) tanpa adanya peleburan konsep (interdisciplinary integration).
Selengkapnya
Kumpulan naskah simposium BBGTK Provinsi Jawa Tengah