Ruang Karya sebagai Pengungkit Budaya Belajar dalam Implementasi STEM
Pendidikan STEM menekankan integrasi sains, teknologi, rekayasa, dan matematika melalui pengalaman autentik yang mendorong murid untuk mengidentifikasi masalah, merancang solusi, menguji, dan melakukan perbaikan secara berkelanjutan (Honey et al., 2014; National Research Council, 2012).
Pembelajaran STEM 5M Berbasis Model 5E
Penguatan pendidikan Sains, Teknologi, Enjinering, dan Matematika (STEM) semakin memperoleh tempat penting dalam agenda transformasi pendidikan Indonesia. Arah tersebut sejalan dengan kebutuhan untuk menyiapkan murid yang tidak hanya menguasai pengetahuan, tetapi juga mampu berpikir kritis, kreatif, berkolaborasi, memecahkan masalah, dan menggunakan pengetahuan untuk menghadapi persoalan nyata
Bukan Sekadar Menjaga Laboratorium: Memahami Peran, Kompetensi, dan Posisi Tenaga Laboratorium Sekolah dalam Permendikdasmen Nomor 21 Tahun 2025
Laboratorium sekolah sering kali mudah dikenali dari isi ruangannya. Ada meja praktikum, lemari alat dan bahan, perangkat pengukuran, komputer, jaringan internet, atau berbagai perangkat teknologi yang digunakan untuk mendukung kegiatan belajar. Namun, laboratorium sesungguhnya bukan sekadar ruang yang dipenuhi benda. Didalamnya juga berlangsung proses belajar, ada murid yang mengamati, mencoba, menguji, menemukan kesalahan, memperbaiki cara kerja, membuktikan suatu konsep, hingga menarik kesimpulan berdasarkan pengalaman yang mereka peroleh sendiri.
Mengasah Keterampilan Reflektif Guru dan Murid
Dalam pendekatan deep learning, keberhasilan belajar tidak hanya ditentukan oleh seberapa banyak materi yang dikuasai murid. Yang tidak kalah penting adalah kemampuan memahami proses belajarnya sendiri. Kemampuan ini dikenal sebagai metakognisi, yaitu kesadaran seseorang tentang cara berpikir, belajar, dan memecahkan masalah. Salah satu sarana utama untuk mengembangkan metakognisi adalah refleksi. Namun, praktik refleksi di kelas sering kali masih sebatas formalitas.
Rancangan Pembelajaran Smart Kunci Sukses STEM
Salah satu alasan mengapa guru tertari menerapkan STEM karena ”si dia” dipandang sebagai pendekatan pembelajaran yang dapat memantik murid untuk berpikir, mengeksplorasi, mencoba, dan berusaha menemukan solusi terhadap berbagai persoalan secara holistik dan berkaitan dengan materi tersaji
Indonesia dalam PISA 2025: What next
PISA adalah indikator utama daya saing ekonomi nasional di masa depan. Riset dari Stanford University memberikan estimasi yang mencengangkan, jika seluruh siswa usia 15 tahun di sebuah negara mampu mencapai tingkat kompetensi dasar (Level 2), hal tersebut dapat menambah lebih dari US$ 40 triliun bagi perekonomian negara tersebut sepanjang masa kerja mereka.