Balai Besar Guru dan Tenaga Kependidikan (BBGTK) Provinsi Jawa Tengah adalah Unit Pelaksana Teknis Bidang Guru dan Tenaga Kependidikan - Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah yang mempunyai tugas melaksanakan Pengembangan dan Pemberdayaan Guru, Pendidik lainnya, Tenaga Kependidikan, Calon Kepala Sekolah, Kepala Sekolah, Calon Pengawas Sekolah, dan Pengawas Sekolah di Provinsi Jawa Tengah.

Komik ini hadir untuk memberikan pemahaman dan informasi terkait berbagai pertanyaan yang sering diajukan oleh SahabatEdu kepada BBGTK Provinsi Jawa Tengah.
Melalui sinergi erat antara Disdikbud Kabupaten Tegal dan BBGTK Jateng ini, diharapkan para penilik sekolah dapat membawa pulang solusi nyata dan pemahaman baru. Hal ini krusial demi mengoptimalkan standarisasi serta mutu tata kelola pendidikan kesetaraan di wilayah Kabupaten Tegal. Dengan hal tersebut, harapan tercapainya Pendidikan untuk Semua (Education for All)
Selengkapnya
BBGTK Jateng merupakan Unit Pelaksana Teknis (UPT) di bawah Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah yang mempunyai fungsi melaksanakan pengembangan dan pemberdayaan guru, pendidik lainnya, tenaga kependidikan, calon kepala sekolah, kepala sekolah, calon pengawas sekolah, dan pengawas sekolah di wilayah Jateng
Selengkapnya
“... Jangan berpikir kolonialisme hanya dalam bentuk klasik seperti yang kita kenal di Indonesia dan wilayah lain. Kolonialisme juga memiliki pakaian modern, dalam bentuk kontrol ekonomi, kontrol intelektual, dan kontrol fisik aktual oleh komunitas asing kecil di dalam sebuah negara."
Selengkapnya
Pada Perayaan Hari Raya Idul Adha 1447H di tahun 2026 H ini, ta'mir Masjid BBGTK Jateng mempunyai inisiatif untuk menyapa dan mengetuk hati seluruh pegawai Balai Besar Guru dan Tenaga Kependidikan (BBGTK) Provinsi Jawa Tengah dengan melaksanakan acara penyembelihan hewan kurban. Hal ini selain bersifat ibadah secara personal, diharapkan juga menjadikan kantor bukan sekadar tempat bekerja, melainkan juga tempat menebar kebaikan dengan mengusung semangat pemerataan dan kepedulian terhadap sesama pegawai dan warga sekitar lembaga.
Selengkapnya
Pernahkah Sobat Guru merasa bersemangat untuk mencoba STEM di kelas, lalu langsung sibuk mencari ide proyek di Pinterest atau menyusun daftar alat dan bahan yang rumit? Tenang, Anda tidak sendirian. Banyak guru yang terjebak pada "bungkus" luar STEM, seperti robotik, maket, atau eksperimen canggih. Tanpa disadari, sering kali pembelajaran dilakukan tanpa menengok fondasi paling utamanya, yaitu paradigma.
Selengkapnya
Pembelajaran STEM bukan sekadar tren atau inovasi sesaat, melainkan sebuah kebutuhan dalam menjawab tantangan pendidikan masa kini dan masa depan. Dengan mengintegrasikan berbagai disiplin ilmu, STEM menghadirkan pembelajaran yang lebih kontekstual, bermakna, dan relevan bagi kehidupan siswa. Perubahan menuju pembelajaran STEM memang tidak selalu mudah. Namun, langkah kecil dapat dimulai dari hal sederhana: mengaitkan materi dengan masalah nyata, memberi ruang bagi siswa untuk bertanya, dan mendorong mereka untuk mencoba serta menemukan solusi. Pada akhirnya, pembelajaran bukan hanya tentang apa yang diajarkan, tetapi bagaimana siswa belajar dan berkembang. Sudah saatnya kita bergerak dari pembelajaran yang terpisah menuju pembelajaran yang terintegrasi.
Selengkapnya
Pergeseran paradigma pada pendidikan saat ini sangat mendasar. Hal ini terjadi akibat desakan era disrupsi dan revolusi industri 4.0. Model pembelajaran tradisional yang hanya membekali siswa untuk cerdas menjawab soal TKA maupun PISA dirasa tidak lagi cukup untuk membekali siswa dengan keterampilan abad ke-21. Di tengah arus informasi yang melimpah, tantangan utama bagi dunia pendidikan bukan lagi tentang seberapa banyak fakta yang bisa dihafal oleh siswa, melainkan seberapa mampu mereka menyaring, menganalisis, dan menggunakan informasi tersebut untuk memecahkan masalah nyata yang kompleks secara kritis dan kreatif.
Selengkapnya
Pendidikan modern menghadapi proses anomali. Perkembangan teknologi yang sedemikian cepatnya, membuat akses informasi menjadi tanpa batas dan tanpa sekat, namun keterlibatan siswa di kelas menurun akibat stimulasi instan dunia digital. Model tradisional teacher-centered tak lagi memadai untuk membekali siswa dengan kemampuan bernalar kritis dan kolaborasi.
Selengkapnya
Kumpulan naskah simposium BBGTK Provinsi Jawa Tengah