Pembelajaran STEM 5M Berbasis Model 5E
Penguatan
pendidikan Sains, Teknologi, Enjinering, dan Matematika (STEM) semakin
memperoleh tempat penting dalam agenda transformasi pendidikan Indonesia. Arah
tersebut sejalan dengan kebutuhan untuk menyiapkan murid yang tidak hanya
menguasai pengetahuan, tetapi juga mampu berpikir kritis, kreatif,
berkolaborasi, memecahkan masalah, dan menggunakan pengetahuan untuk menghadapi
persoalan nyata. Dalam konteks kebijakan pendidikan saat ini, penguatan STEM
ditempatkan sebagai bagian dari upaya membangun sumber daya manusia yang
memiliki kemampuan menghadapi perkembangan sains dan teknologi. Arah kebijakan
pendidikan nasional juga dikaitkan dengan Asta Cita Presiden Prabowo, khususnya
penguatan pembangunan sumber daya manusia, sains, teknologi, dan pendidikan.
Penguatan
tersebut kemudian diterjemahkan melalui Program STEM Nasional yang mengusung
prinsip 5M: Mudah, Murah, Menggembirakan, Mindful, dan Meaningful. Prinsip
ini sekaligus berupaya mengubah persepsi bahwa pembelajaran STEM selalu identik
dengan laboratorium yang lengkap, perangkat teknologi yang mahal, atau proyek
yang membutuhkan biaya besar. Sebaliknya,
STEM diarahkan agar dapat tumbuh dari lingkungan sekitar murid, menggunakan
sumber daya yang tersedia, dan menghadirkan pengalaman belajar yang relevan
dengan kehidupan mereka. Dengan demikian, tantangan pengembangan STEM tidak
berhenti pada pertanyaan “apa itu STEM?”, tetapi bergeser menjadi pertanyaan
yang jauh lebih praktis: “bagaimana guru dapat menghadirkan pembelajaran STEM
secara nyata di dalam kelas?”
Pertanyaan
tersebut menjadi penting karena STEM pada dasarnya bukan sekadar penggabungan
empat mata pelajaran. Pembelajaran STEM menghendaki adanya pengalaman murid
dalam mengidentifikasi persoalan, melakukan investigasi, menggunakan
pengetahuan, merancang solusi, menguji gagasan, dan memperbaiki solusi
berdasarkan bukti. Dengan kata lain, keberhasilan STEM sangat bergantung pada
bagaimana guru merancang pengalaman belajar, bukan semata-mata pada tema atau
produk yang dihasilkan.
Dalam
implementasinya, Problem Based Learning (PBL) dan Project Based Learning (PjBL)
telah banyak digunakan dan dikaji sebagai model yang memiliki kedekatan dengan
karakteristik STEM. PBL memberikan ruang bagi murid untuk belajar melalui
masalah, sedangkan PjBL memberikan pengalaman belajar melalui proses
menghasilkan produk atau karya. Keduanya memiliki kontribusi penting dalam
implementasi STEM.
Namun, masih
terdapat ruang untuk menghadirkan alternatif yang lebih sederhana dan
fleksibel. Guru tidak selalu memiliki waktu yang cukup untuk melaksanakan
proyek yang panjang, sementara pembelajaran STEM tetap perlu hadir dalam
pembelajaran reguler. Pada titik inilah model pembelajaran 5E menjadi menarik
untuk dikaji. Model 5E menyediakan alur pengalaman belajar melalui lima fase:
Engage, Explore, Explain, Elaborate, dan Evaluate. Model ini berakar pada
konstruktivisme dan dirancang agar murid membangun pemahaman melalui
pengalaman, eksplorasi, penjelasan, penerapan, dan evaluasi.
Tantangan Guru
Menerjemahkan STEM 5M ke dalam Pembelajaran Berbasis 5E
Kehadiran
kebijakan dan program STEM belum secara otomatis membuat implementasi STEM
menjadi mudah bagi guru. Tantangan utamanya justru berada pada tingkat
pedagogis: bagaimana prinsip STEM 5M diterjemahkan menjadi pengalaman belajar
yang konkret, terstruktur, dan dapat dilaksanakan dalam keterbatasan
pembelajaran sehari-hari?
Pertama, guru
perlu memiliki alur pembelajaran yang jelas. Kedua, guru membutuhkan model yang
mampu menjaga keseimbangan antara penguasaan konsep dan pengalaman praktis. Ketiga,
model pembelajaran yang sesuai dengan prinsip STEM 5M. Keempat, pembelajaran
perlu menyediakan ruang untuk refleksi dan evaluasi. Tantangan tersebut
menunjukkan bahwa yang dibutuhkan bukan sekadar tambahan aktivitas STEM, tetapi
kerangka pembelajaran yang dapat mengorkestrasi seluruh pengalaman tersebut
secara sistematis. Apakah model pembelajaran 5E sanggup menjawab tantangan
tersebut?
Menggunakan Model
5E sebagai Kerangka Implementasi STEM 5M
Model
Pembelajaran 5E dikembangkan oleh Rodger W. Bybee dan tim dari Biological
Sciences Curriculum Study (BSCS) sebagai pengembangan dari learning cycle
yang berakar pada teori konstruktivisme. Model ini dirancang untuk membantu
peserta didik membangun pemahaman melalui serangkaian pengalaman belajar yang
terstruktur dalam lima fase, yaitu engage, explore, explain, elaborate,
dan evaluate (Bybee et al., 2006; Bybee, 2015). Oleh karena itu,
pembelajaran perlu dirancang untuk memberikan kesempatan kepada peserta didik
mengalami secara langsung proses pembentukan pengetahuan tersebut.
Landasan
konstruktivisme menempatkan murid bukan sebagai penerima informasi secara
pasif, tetapi sebagai individu yang membangun pemahaman berdasarkan pengalaman
dan interaksinya dengan lingkungan. Karena itu, pembelajaran dimulai bukan
semata-mata dari penjelasan guru, melainkan dari pengalaman yang dapat
membangkitkan rasa ingin tahu, mendorong eksplorasi, dan memunculkan kebutuhan
untuk memahami suatu konsep. Kelima fase 5E membentuk suatu siklus pengalaman
belajar.
Urutan tersebut
bukan sekadar lima langkah kegiatan, tetapi menggambarkan perkembangan
pengalaman murid dari tertarik terhadap fenomena, mengalami dan menyelidiki,
membangun penjelasan, menerapkan pengetahuan, kemudian merefleksikan dan
mengevaluasi pembelajaran.
Hal tersebut
memiliki kesesuaian dengan karakteristik pembelajaran STEM. Dalam STEM, murid
diharapkan mengidentifikasi masalah nyata, mengumpulkan dan menganalisis data,
mengembangkan alternatif solusi, merancang dan menguji solusi, serta
mengevaluasi efektivitasnya. Seluruh proses tersebut dapat memperoleh struktur
pedagogis melalui model 5E.
Syarat
Lingkungan Belajar yang Sesuai untuk Menerapkan 5E
Penerapan 5E
dalam STEM tidak terutama ditentukan oleh kelengkapan fasilitas, tetapi oleh
karakteristik lingkungan belajar yang dibangun guru.
Tabel 1. Lingkungan
belajar yang mendukung setidaknya memiliki lima karakteristik.
Karakteristik
tersebut sejalan dengan arah STEM 5M. Lingkungan belajar tidak harus
menggunakan perangkat mahal. Bahan sederhana dari lingkungan sekitar justru
dapat menjadi media untuk melakukan pengamatan, eksperimen, dan rekayasa.
Program STEM resmi Kemendikdasmen juga menekankan bahwa penerapan STEM dapat
menggunakan alat dan bahan lokal serta prosedur yang aman.
Dengan demikian, STEM 5M bukan hanya persoalan bahan yang
murah, tetapi juga bagaimana guru menciptakan lingkungan belajar yang mudah
diakses, menggembirakan, membangun kesadaran berpikir, dan memiliki makna bagi
murid.
Prosedur
Belajar Menggunakan Model Pembelajaran 5E
Secara
konseptual, terdapat keselarasan yang kuat apabila model pembelajaran 5E diintegrasikan
Ke dalam pembelajaran STEM. Keduanya menempatkan peserta didik sebagai aktor
utama dalam proses pembelajaran melalui kegiatan investigasi, pemecahan
masalah, serta pengembangan solusi terhadap permasalahan dunia nyata (Bybee,
2013). Penggunaan model 5E dalam pembelajaran STEM juga dinilai mampu mendukung
pengembangan keterampilan abad ke-21 karena setiap fase memberikan ruang bagi
peserta didik untuk berpikir kritis, berargumentasi, berkolaborasi, dan
mengomunikasikan ide secara ilmiah.
Dalam STEM,
peserta didik diharapkan mampu:
- Mengidentifikasi
masalah nyata;
- Mengumpulkan
dan menganalisis data;
- Mengembangkan
alternatif solusi;
- Merancang
dan menguji produk atau prosedur;
- Mengevaluasi efektivitas solusi yang
dihasilkan.
Proses tersebut
pada dasarnya terakomodasi dalam tahapan-tahapan pembelajaran 5E. Oleh karena
itu, model 5E dapat dipandang sebagai kerangka pedagogis yang membantu guru
mengimplementasikan pendekatan STEM secara sistematis.
Gambar 1. fase proses belajar menggunakan model 5E
Engage Merupakan
Fase Membangun Rasa Ingin Tahu.
Fase engage
bertujuan membangkitkan perhatian, minat, dan rasa ingin tahu murid terhadap
fenomena atau masalah yang akan dipelajari.
Guru tidak harus
memulai dengan definisi atau rumus. Pembelajaran dapat dimulai dengan fenomena
sederhana, demonstrasi, gambar, video, data lingkungan, atau persoalan lokal.
Misalnya, pada
topik kualitas udara, guru dapat mengajak murid membandingkan kondisi
lingkungan sekolah yang banyak pepohonan dengan lingkungan yang didominasi
kendaraan bermotor. Dari fenomena tersebut muncul pertanyaan: Mengapa
kondisi udara pada kedua tempat tersebut dapat berbeda?
Dalam konteks
STEM, engage menjadi pintu masuk menuju persoalan nyata. Rasa ingin tahu
yang muncul kemudian menjadi energi untuk melakukan investigasi.
Explore merupakan
Fase Menyelidiki dan Menghasilkan Bukti
Pada fase explore,
murid melakukan investigasi untuk memperoleh pengalaman dan data.
Aktivitas dapat berupa:
- observasi;
- eksperimen
sederhana;
- pengukuran;
- pengumpulan
data;
- diskusi
kelompok;
- pencarian
informasi;
- perbandingan
hasil;
- pengujian
dugaan.
Guru tidak segera
memberikan jawaban, tetapi memberikan ruang kepada murid untuk menemukan pola
berdasarkan bukti.
Dalam konteks
STEM, fase explore menjadi ruang berkembangnya keterampilan proses
sains. Murid belajar bahwa pengetahuan tidak hanya diperoleh dari apa yang
dikatakan guru, tetapi juga melalui bukti yang diperoleh dari proses
penyelidikan.
Explain Merupakan
Fase Mengonstruksi dan Mengomunikasikan Pemahaman
Setelah
memperoleh pengalaman, murid masuk ke fase explain.
Murid menjelaskan
apa yang ditemukan, mempresentasikan data, membandingkan hasil kelompok, dan
menghubungkan temuan dengan konsep.
Pada tahap ini
guru mulai memperkenalkan istilah, prinsip, atau teori yang diperlukan. Dengan
demikian, penjelasan guru bukan menjadi titik awal pembelajaran, tetapi
memperkuat pemahaman yang sedang dibangun murid berdasarkan pengalaman
sebelumnya.
Fase ini juga
memberikan ruang bagi keterampilan komunikasi ilmiah. Murid belajar menjawab
pertanyaan:
Apa yang kami
temukan?
Bukti apa yang mendukungnya?
Mengapa hasilnya demikian?
Elaborate merupakan Fase Menerapkan Pengetahuan melalui
Engineering
Fase elaborate
merupakan titik penting untuk memperkuat karakter STEM karena murid menggunakan
pengetahuan yang telah dibangun untuk menghadapi situasi baru atau merancang
solusi.
Murid dapat:
- membuat
prototipe;
- mengembangkan
model;
- merancang
alat;
- menguji
alternatif;
- memperbaiki
desain;
- membuat
rekomendasi berbasis data.
Dengan demikian,
engineering tidak harus selalu berupa proyek besar. Sebuah desain sederhana
yang lahir dari kebutuhan untuk menyelesaikan masalah sudah dapat menjadi
pengalaman engineering, selama murid menggunakan proses merancang, mencoba,
menguji, dan memperbaiki.
Di sinilah 5E
memiliki posisi yang menarik dalam STEM. Jika explore menghasilkan
pemahaman dan bukti, maka elaborate membawa pemahaman tersebut menuju
penciptaan dan pengujian solusi.
Evaluate Merupakan Fase Menilai, Merefleksi, dan
Memperbaiki
Fase evaluate tidak seharusnya dipahami hanya sebagai
tes akhir.
Evaluasi dalam 5E
dapat dilakukan sepanjang proses maupun pada akhir pembelajaran. Murid
dapat diminta merefleksikan:
- Apa yang telah saya pelajari?
- Bukti apa yang saya peroleh?
- Bagaimana saya sampai pada
kesimpulan?
- Apa
kesulitan saya?
- Apa
yang tidak berhasil?
- Apa yang perlu saya perbaiki?
- Bagaimana strategi saya jika
mengulanginya?
Dengan demikian,
evaluasi menjadi bagian dari pembelajaran reflektif. Draft yang kita susun juga
telah menghubungkan fase ini dengan gagasan refleksi Kolb, Schön, dan Gibbs
serta pengembangan kesadaran metakognitif.
4. Memetakan 5E dengan STEM 5M
Pemetaan tersebut menunjukkan bahwa 5E bukan STEM itu
sendiri, tetapi dapat berfungsi sebagai kerangka pedagogis untuk mengorkestrasi
pengalaman STEM.
1. Tabel2. Matriks Utama Model Pembelajaran 5E
Bagaimana Guru
Menilai Hasil Belajar Murid?
Jika pembelajaran
STEM menggunakan 5E, maka cara menilai hasil belajar juga perlu bergeser. Guru
tidak cukup menilai apakah murid memperoleh jawaban yang benar atau
menghasilkan produk yang bagus.
Yang perlu
dilihat adalah perkembangan murid sepanjang proses.
Tabel 3. Lima
aspek yang menjadi fokus asesmen:
Dengan demikian,
asesmen dapat menggunakan kombinasi observasi, jurnal proses, lembar kerja,
dokumentasi proses, produk/prototipe, presentasi, rubrik, dan refleksi diri.
Hal yang penting
adalah guru menilai proses dan produk secara bersamaan. Dalam STEM, kegagalan
sebuah desain bukan otomatis menunjukkan kegagalan belajar. Sebaliknya,
kegagalan dapat menjadi bukti bahwa murid sedang melakukan proses pengujian dan
belajar dari hasilnya.
Di sinilah fase evaluate
memiliki posisi strategis. Evaluasi bukan hanya bertanya “berapa nilai yang
diperoleh?”, tetapi juga:
“Apa yang berubah
dalam cara murid memahami masalah, menggunakan bukti, merancang solusi, dan
merefleksikan proses belajarnya?”
Pertanyaan
tersebut membuat asesmen menjadi bagian dari pembelajaran, bukan sekadar
aktivitas setelah pembelajaran selesai.
Penutup
Program STEM 5M
memberikan arah baru bagi pengembangan pembelajaran STEM di Indonesia. Prinsip
Mudah, Murah, Menggembirakan, Mindful, dan Meaningful menegaskan bahwa STEM
tidak harus hadir melalui fasilitas yang mahal atau proyek yang kompleks. Yang
lebih penting adalah bagaimana murid memperoleh pengalaman belajar yang nyata,
relevan, aktif, dan mendorong mereka menggunakan pengetahuan untuk memahami
serta menyelesaikan persoalan. Program resmi Kemendikdasmen sendiri menempatkan
penguatan kompetensi guru sebagai bagian penting agar STEM dapat diterapkan
secara kontekstual dan berdampak bagi murid.
Nah guru, pada akhirnya tantangan implementasi STEM adalah “bagaimana
membuat mereka mengalami proses berpikir, menyelidiki, menjelaskan, merancang,
menguji, memperbaiki, dan merefleksikan”. Dalam kerangka tersebut, 5E
menawarkan sebuah jalan yang relatif sederhana tetapi sistematis. Prinsipnya
adalah mengubah rasa ingin tahu menuju pemahaman, dari pemahaman menuju solusi,
dan dari solusi menuju refleksi. Di
situlah STEM 5M berpotensi hadir secara lebih dekat dengan realitas kelas dan
kehidupan murid.
Daftar Pustaka
Awal
Bybee, R. W. (2013). The Case
for STEM Education: Challenges and Opportunities. Arlington, VA: NSTA
Press.
Bybee, R.
W. (2015). The BSCS 5E Instructional Model: Creating Teachable Moments.
Arlington, VA: NSTA Press.
Gibbs, G.
(1988). Learning by Doing: A Guide to Teaching and Learning Methods.
London: Further Education Unit.
Kolb, D. A.
(1984). Experiential Learning: Experience as the Source of Learning and
Development. Englewood Cliffs, NJ: Prentice Hall.
National
Research Council. (2012). A Framework for K–12 Science Education: Practices,
Crosscutting Concepts, and Core Ideas. Washington, DC: National Academies
Press.
Schön, D.
A. (1983). The Reflective Practitioner: How Professionals Think in Action.
New York: Basic Books.