×
VISI SALINGTEMAS di ERA  PEMBELAJARAN MODERN

VISI SALINGTEMAS di ERA  PEMBELAJARAN MODERN

 

Oleh: LP Ario Nugroho

 

Dua puluh tahun yang lalu, pengembang mulai dikenalkan sebuah konsep bervisi mendalam pada sistem pembelajaran, yaitu SALINGTEMAS (Sains, Lingkungan, Teknologi, dan Masyarakat). Pendekatan ini menawarkan cara pandang yang sepenuhnya berbeda terhadap pembelajaran sains di kelas. Melalui paradigma ini, sains tidak lagi dipelajari sekadar sebagai kumpulan fakta mati dan rumus hafalan yang terpisah dari realitas kehidupan, melainkan dipahami sebagai bagian utuh dari hubungan yang erat antara perkembangan teknologi, kondisi lingkungan, dan kebutuhan masyarakat.

Memasuki awal tahun 2000-an, paradigma pendidikan pun mulai bergeser secara nyata dari yang semula berfokus pada penguasaan materi teoretis, menuju pada pemahaman yang jauh lebih kontekstual. Di sinilah gagasan utama SALINGTEMAS menjadi pondasi penting yang menekankan bahwa pembelajaran sains harus mampu membantu peserta didik memahami keterkaitan dunia nyata. Proses belajar dirancang agar siswa dapat melihat bagaimana pengetahuan ilmiah diaplikasikan secara praktis dalam kehidupan sehari-hari.

Melalui pendekatan kontekstual tersebut, peserta didik diajak untuk menyadari secara kritis bahwa setiap jengkal perkembangan teknologi selalu membawa dampak langsung terhadap lingkungan dan masyarakat. Sebaliknya, berbagai persoalan sosial dan ekologis yang muncul di tengah komunitas sering kali menuntut pemahaman sains yang kuat serta pemanfaatan teknologi yang tepat guna demi menemukan solusi terbaik. Hubungan timbal balik inilah yang menjadi ruh utama dari kepekaan sosial dalam belajar.

Kini, ketika STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics) tumbuh menjadi salah satu pendekatan yang mendominasi pendidikan modern abad ke-21, para pengembang melihat adanya benang merah yang kuat dengan konsep terdahulu. Meskipun saat itu istilah STEM belum sepopuler sekarang, semangat yang dibangun oleh SALINGTEMAS sesungguhnya memiliki banyak irisan dengannya, di mana keduanya sama-sama berupaya menjadikan pembelajaran lebih bermakna melalui keterkaitan dengan kehidupan nyata. Kendati demikian, tetap terdapat beberapa perbedaan penekanan yang sangat menarik dan penting untuk dicermati lebih mendalam.

 

Tabel 1. Perbedaan Peran STEM dengan Saling Temas

 

SALINGTEMAS

STEM

Menekankan hubungan antara sains, lingkungan, teknologi, dan masyarakat

Menekankan integrasi sains, teknologi, rekayasa (engineering), dan matematika

Berangkat dari isu-isu yang muncul dalam kehidupan masyarakat dan lingkungan

Berangkat dari tantangan atau masalah yang memerlukan solusi inovatif

Fokus pada pemahaman keterkaitan antarunsur dalam kehidupan

Fokus pada proses desain, inovasi, dan pemecahan masalah

Menaruh perhatian besar pada dampak sosial dan lingkungan dari teknologi

Menaruh perhatian besar pada pengembangan solusi melalui rekayasa dan desain

Membentuk kesadaran sosial dan lingkungan peserta didik

Mengembangkan kompetensi abad ke-21 seperti berpikir kritis, kreativitas, kolaborasi, dan komunikasi

Menempatkan masyarakat sebagai konteks sekaligus penerima dampak perkembangan teknologi

Menempatkan masyarakat sebagai pengguna atau penerima manfaat solusi yang dihasilkan

 

Jika dicermati, perbedaan tersebut bukan menunjukkan adanya pertentangan antara SALINGTEMAS dan STEM. Sebaliknya, keduanya justru dapat dipandang sebagai pendekatan yang saling melengkapi. STEM memberikan kerangka untuk menghasilkan solusi, sementara SALINGTEMAS mengingatkan bahwa setiap solusi perlu mempertimbangkan keberlanjutan lingkungan dan kebutuhan masyarakat.

Dengan perspektif tersebut, pengembang semakin meyakini bahwa visi SALINGTEMAS yang pernah pengembang pelajari dua puluh tahun lalu sesungguhnya tidak kehilangan relevansinya. Berbagai nilai yang terkandung di dalamnya justru dapat memperkaya implementasi STEM pada pembelajaran modern.

 

Tantangan: Munculnya Tuntutan Kompetensi Abad ke-21

Perkembangan teknologi digital yang masif, akselerasi kecerdasan buatan, hingga dinamika perubahan iklim dan berbagai persoalan global lainnya kini telah melahirkan tantangan serta tuntutan baru bagi dunia pendidikan. Di tengah era yang terus berubah dengan cepat ini, peserta didik tidak bisa lagi hanya mengandalkan penguasaan terhadap konsep-konsep akademik atau teoretis semata. Untuk dapat bertahan dan tetap relevan, mereka perlu dibekali dengan kemampuan berpikir kritis yang tajam, kecakapan dalam memecahkan masalah yang kompleks, keterampilan berkolaborasi yang solid, serta daya inovasi yang tinggi guna memberikan solusi solutif pada kehidupan mereka.

Dalam konteks kebutuhan mendesak inilah, pendekatan STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics) berkembang pesat untuk mengintegrasikan berbagai disiplin ilmu demi menyelesaikan masalah nyata. Namun, orientasi STEM yang terkadang terlalu berfokus pada efisiensi desain dan pemecahan masalah secara teknis mulai memunculkan satu pertanyaan reflektif yang sangat penting: apakah solusi teknologi yang dihasilkan tersebut sudah benar-benar mempertimbangkan dampak jangka panjangnya terhadap kelestarian lingkungan dan kemaslahatan masyarakat?

Pertanyaan reflektif tersebut membuka kesadaran baru bahwa inovasi yang canggih sekalipun akan kehilangan maknanya jika mengabaikan sisi kemanusiaan dan daya dukung bumi. Di sinilah pentingnya menghadirkan kembali ruh SALINGTEMAS sebagai kompas moral dan sosial. Dengan menempatkan perspektif lingkungan dan kemasyarakatan di jantung inovasi teknis, proses pendidikan tidak hanya akan melahirkan kreator yang andal dalam menciptakan teknologi mutakhir, melainkan juga menumbuhkan generasi pemecah masalah yang bijaksana dan bertanggung jawab terhadap keberlangsungan masa depan.

 

Menghubungkan SALINGTEMAS Dengan STEM

Dalam lanskap pendidikan modern inilah, visi SALINGTEMAS menemukan momentumnya untuk kembali relevan. Meskipun lahir dari era dan konteks yang berbeda, pendekatan STEM dan SALINGTEMAS pada dasarnya memiliki benang merah semangat yang serupa, yakni menghadirkan proses pembelajaran yang bermakna serta dekat dengan realitas kehidupan peserta didik. Perbedaan mendasar di antara keduanya hanya terletak pada titik tekan fokus masing-masing; jika STEM menitikberatkan pada proses merancang solusi teknis melalui integrasi lintas disiplin ilmu, maka SALINGTEMAS lebih menekankan pentingnya pemahaman holistik mengenai keterkaitan antara sains, teknologi, lingkungan, dan masyarakat.

Kedua pendekatan ini sesungguhnya tidak untuk dipertentangkan, melainkan dapat saling melengkapi secara harmonis. Sebagai contoh, dalam sebuah proyek STEM yang mengangkat tema pengelolaan sampah plastik, peserta didik tidak hanya dituntut untuk merancang alat atau produk inovatif yang solutif. Lebih dari itu, mereka juga diajak untuk menganalisis dampak buruk penumpukan sampah terhadap ekosistem, mengidentifikasi pola perilaku masyarakat yang memicu masalah tersebut, serta mengevaluasi sejauh mana efektivitas solusi yang mereka rancang ketika diterapkan dalam kehidupan nyata sehari-hari.

Melalui perpaduan yang sinergis ini, muara dari proses pembelajaran tidak lagi berhenti pada sebatas penciptaan atau penguasaan teknologi baru. Integrasi tersebut secara otomatis akan membangun kesadaran sosial dan kepedulian lingkungan yang mendalam di dalam diri peserta didik. Dengan demikian, sekolah tidak sekadar mencetak inovator yang andal secara teknis, tetapi juga melahirkan generasi yang bijaksana, peka secara sosial, serta bertanggung jawab penuh terhadap keberlanjutan masa depan.

Kesadaran sosial dan lingkungan yang telah terbangun tersebut tentu tidak akan bermakna tanpa adanya ruang implementasi yang terstruktur di dalam kelas. Oleh karena itu, agar visi integrasi antara STEM dan SALINGTEMAS ini dapat mewujud secara nyata dalam tindakan, diperlukan sebuah rancangan skenario instruksional yang matang. Peta gagasan ini kemudian diturunkan ke dalam sebuah rencana pelaksanaan pembelajaran yang secara khusus didesain untuk memandu setiap tahapan aktivitas guru dan peserta didik secara sistematis.

Melalui perencanaan pembelajaran yang komprehensif ini, seluruh konsep integratif tersebut tidak lagi sekadar menjadi wacana teoretis, melainkan bertransformasi menjadi langkah-langkah praktis yang siap dieksekusi di lapangan. Berikut adalah tabel perencanaan pembelajaran yang telah disusun secara sistematis sebagai acuan operasional dalam proses pembelajaran:

 

Tabel 2. Komponen Perencanaan Pembelajaran STEM Berperspektif SALINGTEMAS

Langkah Perencanaan

Fokus STEM

Perspektif SALINGTEMAS

Pertanyaan Panduan Guru

Identifikasi masalah

Menentukan tantangan atau masalah yang akan dipecahkan

Memilih isu yang terkait dengan lingkungan dan masyarakat

Masalah nyata apa yang ada di sekitar peserta didik?

Investigasi sains

Mengkaji konsep dan fenomena ilmiah

Memahami hubungan fenomena tersebut dengan lingkungan

Konsep sains apa yang menjelaskan masalah ini?

Pengumpulan data

Menggunakan matematika untuk mengukur dan menganalisis

Mengumpulkan data lingkungan dan kondisi masyarakat

Data apa yang dibutuhkan untuk memahami masalah secara utuh?

Eksplorasi teknologi

Mengidentifikasi teknologi yang tersedia

Menilai kesesuaian teknologi dengan kondisi lingkungan dan masyarakat

Teknologi apa yang dapat membantu mengatasi masalah?

Perancangan solusi

Merancang produk atau solusi rekayasa (engineering)

Memastikan solusi mempertimbangkan dampak lingkungan dan kebutuhan masyarakat

Solusi seperti apa yang paling tepat dan berkelanjutan?

Pembuatan dan pengujian prototipe

Membuat dan menguji Solusi

Mengamati pengaruh solusi terhadap lingkungan sekitar

Apakah solusi bekerja dengan baik dan aman bagi lingkungan?

Analisis dampak

Mengevaluasi efektivitas Solusi

Mengkaji manfaat, risiko, dan keberterimaan sosial

Siapa yang memperoleh manfaat? Adakah dampak yang tidak diinginkan?

8. Refleksi dan tindak lanjut

Menyempurnakan solusi berdasarkan hasil evaluasi

Menumbuhkan tanggung jawab sosial dan lingkungan

Apa yang perlu diperbaiki agar solusi lebih bermanfaat dan berkelanjutan?

 

Perencanaan pembelajaran pada tabel 2, kemudian dapat disederhanakan menjadi contoh sebuat alur pembelajaran STEM bervisi Salingtemas. Pada tulisan ini dicontohkan alur pembelajaran dengan mengambil tema sampah plastik.

Gambar 1. Contoh rancangan alur pembelajaran STEM bervisi Salingtemas

 

Alur pembelajaran yang dicontohkan menunjukkan peran masing masing pendekatan, baik itu pendekatan STEM maupun visi Saling Temas. Peran Utama STEM  dengan Visi Salingtemas pada alur pembelajaran diatas, tersajikan pada gambar 1.

Gambar 2. Peran masing masing pendekatan pada proses pembelajaran

 

Gabungan pendekatan dan visi ini menjadikan pembelajaran lebih utuh karena menggabungkan kemampuan berinovasi dengan membentuk tanggung jawab murid terhadap lingkungan dan masyarakat.

 

 

SALINGTEMAS Tidak Pernah Benar-Benar Usang

Setelah dua dekade berlalu, pengembang menyadari bahwa gagasan-gagasan yang diusung oleh SALINGTEMAS justru menjadi semakin relevan dalam konteks masa kini. Berbagai tantangan global saat ini membuktikan bahwa kemajuan teknologi dan sains tidak lagi dapat dipisahkan dari pertimbangan kelestarian lingkungan serta kepentingan masyarakat luas. Jika pendekatan STEM berperan penting dalam membantu peserta didik menjawab pertanyaan teknis mengenai bagaimana sebuah solusi dirancang dan bekerja, maka SALINGTEMAS hadir untuk melengkapinya dengan esensi yang lebih mendalam: menguji untuk siapa solusi tersebut diciptakan serta apa dampaknya bagi lingkungan sekitar.

Oleh karena itu, SALINGTEMAS tidak seharusnya dipandang sebagai konsep usang yang posisinya telah digantikan oleh STEM. Sebaliknya, visi dan prinsip dasar SALINGTEMAS perlu diintegrasikan sebagai perspektif krusial yang memperkaya pembelajaran STEM. Dengan memadukan keduanya, pendidikan tidak hanya melahirkan inovasi teknologi yang cerdas, tetapi juga mampu menghadirkan proses pembelajaran yang jauh lebih kontekstual, humanis, serta berorientasi pada masa depan yang berkelanjutan.

 

Penutup

Nah guru, saat ini kita dihadapkan pada tantangan pembelajaran modern yang membutuhkan peserta didik yang tidak hanya mampu berinovasi, tetapi juga memiliki kepedulian terhadap lingkungan dan masyarakat. Integrasi semangat STEM dengan visi SALINGTEMAS dapat menjadi jalan untuk mewujudkan pembelajaran yang menghasilkan pemecah masalah sekaligus warga yang bertanggung jawab.

Di era STEM, visi SALINGTEMAS tetap relevan karena membantu memastikan bahwa setiap inovasi yang dihasilkan peserta didik tidak hanya cerdas secara teknologis, tetapi juga bermakna bagi masyarakat dan berkelanjutan bagi lingkungan.

 

 

Daftar Pustaka

Binadja, A. (1999). Hakekat dan Tujuan Pendidikan SETS (Science, Environment, Technology, and Society) dalam Konteks Kehidupan. Semarang: Laboratorium SETS Universitas Negeri Semarang.

Poedjiadi, A. (2010). Sains Teknologi Masyarakat: Model Pembelajaran Kontekstual Bermuatan Nilai. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Yager, R. E. (1992). The Constructivist Learning Model: Toward Real Reform in Science Education. The Science Teacher, 59(6), 52–57.

National Science Foundation (NSF). (2026). STEM Education. Diakses dari https://ncses.nsf.gov/interest-areas/stem.

Britannica. (2026). STEM Education. Encyclopaedia Britannica. Diakses dari https://www.britannica.com/topic/STEM-education.

National Research Council. (2014). STEM Integration in K–12 Education: Status, Prospects, and an Agenda for Research. Washington, DC: The National Academies Press.

U.S. Congress. (2015). STEM Education Act of 2015. Public Law 114–59. Washington, DC.

University of California Davis STEM Portal. (2021). What is STEM? Diakses dari https://stem.ucdavis.edu/what-stem.

 

Survey Kepuasan