Peran
STEM dalam Menguatkan Literasi dan Numerasi
LP Ario
Nugroho
PTP
BBGTK Jawa Tengah
Literasi dan numerasi kini sering kali hanya
menjadi jargon atau kata-kata yang kehilangan makna terdalamnya. Begitu banyak
guru, instruktur, atau praktisi pendidikan menggaungkan kedua istilah ini di
berbagai forum, namun penerapannya di ruang kelas kerap terasa hampa. Fakta
objektif ini diperkuat oleh hasil evaluasi internasional yang menunjukkan masih
rendahnya peringkat Indonesia dalam studi TIMSS (Trends in International
Mathematics and Science Study) dan PISA (Programme for International Student Assessment)—dua
instrumen ukur standar literasi dan numerasi dunia yang diinisiasi oleh OECD.
Di tingkat mikro, pernahkah kita mengamati
seorang siswa yang mampu membaca sebuah teks dengan sangat lancar, namun ketika
diminta menjelaskan kembali maknanya, ia justru terdiam kebingungan? Atau,
pernahkah kita melihat anak didik yang begitu terampil menghafal rumus
perkalian serumit apa pun di atas kertas, tetapi seketika gagap saat diminta
menghitung diskon belanja atau memproyeksikan kebutuhan bahan dalam kehidupan
nyata?
Potret dilematis ini bukanlah fenomena baru,
melainkan cerminan dari tantangan nyata literasi dan numerasi yang masih
membayangi dunia pendidikan kita. Kompetensi dasar literasi dan numerasi
sejatinya bukan sekadar urusan teknis mengeja huruf atau kelincahan
mengoperasikan angka-angka matematis. Esensi terdalam dari kedua kecakapan ini
adalah kapasitas bernalar: bagaimana peserta didik mampu memahami informasi,
menalar hubungan kausalitas, dan menggunakan pengetahuan tersebut secara
adaptif untuk menyelesaikan masalah sehari-hari.
Satu fakta yang sering kita abaikan adalah
perlunya meningkatkan literasi numerasi murid sebagai fondasi utama dikuasainya
keterampilan abad ke-21. Sebagaimana kita ketahui bersama, dalam menghadapi
tuntutan zaman yang membutuhkan kecakapan berpikir kritis, kolaborasi, dan
kreativitas, pendekatan pembelajaran klasikal yang bersifat satu arah sudah
saatnya ditransformasikan. Salah satu model alternatif yang kian diakui
keandalannya adalah pendekatan STEM (Science, Technology, Engineering, and
Mathematics). Melalui STEM, batas-batas kaku antar-disiplin ilmu dilebur ke
dalam satu wadah pembelajaran berbasis solusi nyata. Ketika pendekatan ini
diintegrasikan dengan metode deep learning (pembelajaran mendalam), siswa tidak
lagi sekadar menjadi penonton pasif kurikulum, melainkan pelaku utama yang
mengalami dan merasai sendiri proses keilmuan tersebut [Ibrahim et al., 2024].
Belenggu Pola Pembelajaran Ekspositori
Tantangan utama dalam meningkatkan kecakapan
literasi dan numerasi pada pembelajaran STEM adalah bagaimana guru dapat
menyajikan ragam aktivitas pembelajaran kontekstual yang mampu merangsang
sekaligus mendongkrak kemampuan berpikir kritis siswa. Selain itu, pendidik
juga ditantang untuk mampu mengukur peningkatan literasi dan numerasi murid
secara berkala dan akurat. Pengukuran ini sangat krusial agar perkembangan
kompetensi berpikir siswa dapat terpantau secara objektif dan terstruktur,
bukan sekadar bersandar pada asumsi subjektif guru di kelas.
Sementara itu, transformasi menuju kelas
berbasis STEM tentu tidak terjadi secara mudah. Guru di lapangan kerap kali
berhadapan dengan berbagai tembok tebal berupa pola pembelajaran ekspositori
yang kurang interaktif dan sudah telanjur nyaman diterapkan selama
bertahun-tahun. Beberapa tantangan klasik tersebut di antaranya:
Pembelajaran Parsial
Materi sains diajarkan terpisah dari
matematika, sementara teknologi hanya dipandang sebagai alat bantu mengetik
tanpa ada integrasi logis dan konseptual di antara ketiganya.
Pembelajaran Tekstual
Proses belajar-mengajar masih didominasi oleh
transfer materi satu arah yang menekankan pada kemampuan menghafal definisi
demi kelulusan ujian, alih-alih pemahaman konsep secara mendalam.
Latihan Soal yang Abstrak
Soal-soal evaluasi yang diberikan kepada siswa
cenderung teoretis dan sangat berjarak dari konteks lingkungan sosial maupun
kehidupan sehari-hari siswa.
Pasivitas Siswa di Ruang Kelas
Murid diposisikan sebagai wadah kosong yang
siap menerima asupan informasi dari guru tanpa memiliki ruang gerak yang cukup
untuk mengeksplorasi rasa ingin tahu mereka sendiri.
Padahal, standar kompetensi nasional maupun
global saat ini menuntut siswa untuk memiliki ketahanan kognitif yang kuat
[Nurwijaya, 2023]. Tanpa adanya keberanian dari guru untuk mengubah cara
mengajar, siswa berisiko tumbuh menjadi generasi yang mahir menjawab soal-soal
ujian tertulis, tetapi rapuh dan kebingungan ketika dihadapkan pada dinamika
persoalan riil di luar pagar sekolah.
Integrasi Siklus STEM dalam Kerangka
Pembelajaran Mendalam
Di sinilah pembelajaran mendalam berbasis STEM
menawarkan harapan baru.
mari kta buat satu contoh kecil sebuah kelas
yang membahas pencemaran udara. Siswa tidak hanya membaca teks atau
mendengarkan ceramah guru, melainkan bergerak aktif dan terlibat langsung dalam
proses pemecahan masalah:
- Mengamati kondisi lingkungan sekitar sekolah secara langsung.
- Mengumpulkan
dan mengolah data parameter kualitas udara.
- Menghitung hasil pengamatan untuk melihat tren polusi.
- Mendesain
solusi sederhana berupa prototipe penyaring udara
(filter).
- Menyajikan
temuan dalam bentuk laporan dan presentasi di
depan kelas.
Agar rangkaian aksi nyata ini lebih mudah
dipetakan dan diterapkan oleh guru secara terstruktur di kelas, kita dapat
mengintegrasikan siklus STEM tersebut ke dalam tiga fase Pembelajaran
Mendalam (Deep Learning) melalui tabel panduan operasional berikut:
|
Fase Pembelajaran Mendalam |
Pilar STEM Terintegrasi |
Aksi Nyata Pembelajaran di Kelas |
Peran STEM dalam Meningkatkan Literasi |
Peran STEM dalam Meningkatkan Numerasi |
|
Fase 1 |
Sains (Science) & Teknologi (Technology) |
- Guru memantik isu dengan memperlihatkan
data ISPU. |
- Melatih membaca kritis (critical
reading) artikel ilmiah tentang partikel berbahaya |
- Belajar mengidentifikasi variabel
kuantitatif di lapangan. |
|
- Siswa mengobservasi lapangan secara
berkelompok. |
- Menyaring informasi digital yang valid. |
- Menafsirkan grafik tren fluktuasi harian
kualitas udara. |
||
|
- Siswa mengukur kualitas udara menggunakan
aplikasi sensor digital secara real-time. |
- Mengonstruksi hipotesis tertulis. |
- Menabulasikan data mentah hasil pengukuran
secara terstruktur. |
||
|
Fase 2 |
Rekayasa (Engineering) |
- Siswa merancang dan membuat prototipe alat
penyaring udara sederhana (filter berlapis karbon aktif, kapas, sabut kelapa)
melalui siklus Engineering Design Process (EDP): membuat draf desain,
merakit, menguji, mengevaluasi kegagalan, dan merevisi. |
- Menyusun teks instruksional prosedural
berupa panduan perakitan alat (manual book) yang sistematis, runtut,
dan logis sehingga mudah dipahami oleh kelompok lain. |
- Mempraktikkan penalaran geometris dan
spasial. |
|
- Mengukur presisi dimensi fisik wadah
tabung filter. |
||||
|
- Merancang rencana anggaran biaya (budgeting)
bahan baku secara efisien. |
||||
|
Fase 3 |
Matematika (Mathematics) |
- Siswa menguji efektivitas alat dengan
menghitung durasi waktu penyaringan asap di dalam kotak uji. |
- Mengasah keterampilan berbicara di depan
umum (public speaking) berbasis data. |
- Mengoperasikan kalkulasi matematika berupa
laju aliran udara (debit). |
|
- Mempresentasikan temuan di depan kelas. |
- Menyusun argumen lisan yang persuasif. |
- Mengalkulasi persentase penurunan polutan
setelah filtrasi. |
||
|
- Berdiskusi untuk mentransfer konsep filter
ini ke skala rumah tangga. |
- Menulis esai refleksi yang menghubungkan
data angka dengan argumen verbal. |
- Menyajikan data uji coba dalam diagram
batang/garis. |
Pendekatan ini terbukti mampu meningkatkan
kemampuan numerasi dan keterlibatan belajar siswa karena mengaitkan konsep
dengan masalah nyata [Siregar & Maysarah, 2025]. Melalui proses yang utuh
ini:
●
Literasi berkembang melalui aktivitas membaca, menafsirkan, dan mengomunikasikan
informasi.
●
Numerasi terasah melalui pengolahan data dan pemecahan masalah secara nyata.
●
Berpikir kritis dan kreativitas siswa ikut tumbuh seiring proses rekayasa solusi.
Selain itu, integrasi STEM dengan pendekatan
pembelajaran yang menantang (seperti project-based learning atau challenge-based
learning) juga terbukti meningkatkan kemampuan literasi numerasi secara
signifikan [Setiawan dkk., 2024]. Dalam proses ini, guru berperan sebagai
fasilitator yang mendorong eksplorasi dan refleksi, sehingga pembelajaran
menjadi lebih bermakna.
Strategi Asesmen Literasi dan Numerasi yang
Otentik
Setelah merancang proses pembelajaran yang
mengalir lancar, muncul satu pertanyaan krusial bagi guru: Bagaimana kita
tahu bahwa kemampuan literasi dan numerasi siswa benar-benar meningkat?
Mengukur peningkatan ini tidak bisa lagi mengandalkan tes pilihan ganda
konvensional yang kaku. Kita membutuhkan strategi Asesmen Otentik yang
terintegrasi langsung sepanjang proyek STEM berlangsung. Guru dapat menerapkan
teknik evaluasi komprehensif berikut:
Asesmen Formatif Berbasis Rubrik Kinerja
Guru melakukan observasi terstruktur selama
proses diskusi kelompok, pengerjaan proyek, dan perakitan alat berlangsung.
Indikator kinerja yang dinilai meliputi:
Evaluasi Keberhasilan Produk Berbasis Data
Riil
Pengukuran numerasi siswa dapat dinilai
langsung dari cara mereka menguji prototipe filter udara.
Jurnal Refleksi Mandiri
Di akhir siklus proyek, siswa mengisi lembar
penilaian diri sendiri (learning log) dan rekan satu timnya.
Melalui penerapan kombinasi asesmen kinerja,
pembuktian formula keberhasilan produk, dan lembar refleksi ini, guru memiliki
data rekam jejak (evidence) yang valid dan objektif untuk membuktikan
peningkatan kompetensi bernalar siswa dari awal hingga akhir pembelajaran.
Lensa Baru Memandang Literasi-Numerasi
Nah guru Pembelajaran berbasis STEM yang
mendalam pada akhirnya bukan hanya tentang penggunaan teknologi yang canggih
atau metode yang rumit, melainkan tentang merubah cara pandang kita.
Literasi tidak hanya membaca teks, tetapi
membaca dunia, tentang bagaimana membuat solusi praktis yang memberi makna dan
menyadarkan bagaimana manusia berproses dan tumbuh menjadi seperti saat ini.
Numerasi bukan sekadar angka di atas kertas, tetapi alat untuk memahami
realitas kehidupan sehari-hari. Pendekatan STEM membantu siswa mengembangkan
keterampilan abad ke-21 yang sangat mereka butuhkan, seperti berpikir kritis,
kolaborasi, dan pemecahan masalah [Ibrahim et al., 2024].
Memang harus diakui, implementasinya di
lapangan membutuhkan kesiapan kompetensi guru serta dukungan ekosistem sekolah
yang suportif. Namun, berbagai penelitian telah membuktikan bahwa integrasi
STEM dan pembelajaran mendalam memiliki potensi raksasa dalam meningkatkan
kualitas pembelajaran sekaligus memperkuat literasi dan numerasi siswa [Hotimah
dkk., 2025]. Pada akhirnya, pembelajaran yang bermakna inilah yang akan
melahirkan generasi cerdas yang tidak hanya tangguh secara akademik, tetapi
juga adaptif dan solutif dalam menghadapi tantangan kehidupan nyata.
Pada akhirnya, beranikah guru merubah
pembelajaran di kelas bersama para murid? Selamat mencoba.
Daftar Pustaka
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen). (2024). Naskah
Akademik Pembelajaran Mendalam (Deep Learning) untuk Penguatan Literasi,
Numerasi, dan Karakter. Jakarta: Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen
Pendidikan (BSKAP).
Audia, W., & Mastoah, I. (2025). Strategi Inovatif dalam
Meningkatkan Literasi dan Numerasi. Jurnal Universitas Sebelas Maret.
[jurnal.uns.ac.id]
Hotimah, H., dkk. (2025). Strategi Pembelajaran Literasi Numerasi Siswa
SMP. Proceeding Universitas Negeri Semarang. [proceeding.unnes.ac.id]
Ibrahim, M., Herwin, H., Retnawati, H., dkk. (2024). STEM Learning for
Students Mathematical Numeracy Ability. European Journal of STEM Education.
[files.eric.ed.gov]
Nurwijaya, S. (2023). Pengaruh Pendekatan Pembelajaran STEM terhadap
Kemampuan Numerasi Siswa. Jurnal Pendidikan Indonesia. [e-journal.my.id]
Setiawan, A. V., dkk. (2024). Enhancing Numeracy Literacy through
CBL-STEM. Journal of Al-Wathan. [journal.stalwathan.id]
Siregar, W. R., & Maysarah, S. (2025). The Effect of STEM Learning
Model on Students' Numeracy Literacy Skills. Mathline: Jurnal Analisis
Matematika. [mathline.unwir.ac.id]